Posted by: M Shodiq Mustika | 4 Juli 2008

Awas! Ada bid’ah di buku terbitan Lingkar Pena

Ini bukanlah untuk menjelek-jelekkan Lingkar Pena Publishing House. Saya menyayangi saudara-saudara saya di Lingkar Pena. Dengan diiringi rasa sayang inilah saya menyayangkan mengapa Lingkar Pena menerbitkan sebuah buku yang isinya mengandung bid’ah yang sesat dan menyesatkan. Untuk jelasnya, silakan baca artikel “Awas! Taaruf praNikah = bid’ah sesat!!!” Saya berharap, semoga Lingkar Pena berkenan meluruskan yang menyimpang itu (dan meluruskan saya bila sayalah yang menyimpang).

Posted by: M Shodiq Mustika | 2 Juni 2008

aku bukan “pembela Islam”

Entah mataku yang telah dimakan umur, entah akalku yang mulai dimakan pikun; detik ini aku tak mampu melihat: siapakah pembela Islam. Apakah aku bukan pembela Islam? Yang menyebut dirinya “Pembela Islam” itukah si pembela Islam?

Kepada Yth DETASEMEN 88 ANTI TERORIS Saya melaporkan bahwa ada suatu gerakan teroris yang sangat membahayakan jiwa masyarakat umum dan keamanan secara umum.

FPI Beraksi Lagi: Memukul hanya Merespon, ibu-ibu dan anak-anakpun jadi korban Hik hik… kasihan mereka.

Impotensi Pemerintah dan Aparat Di manakah aparat pemerintah berada ketika jiwa rakyat terancam?

FPI Serang AKKBB, 14 Orang Terluka, Monas Rusuh Apakah Perang Dunia III sedang dimulai?

Umatku … Umatku … Tegas ataukah kejam?

Partai Demokrat Kritik Kekerasan FPI Bagaimana dengan PKS, PPP, PKB, PAN, PBB, PKNU, dan partai-partai islam lainnya? Baca Lanjutannya…

Posted by: M Shodiq Mustika | 28 Mei 2008

Ciri-Ciri Islam Ekstrim (2): Buruk Sangka dan Menuduh

Di antara tanda sikap ekstrim yang tampak jelas, selain bersikap fanatik, adalah bersangka buruk terhadap orang lain, sehingga suka melontarkan fitnah atau menuduh tanpa bukti yang kuat (Dr. Yusuf Qardhawi, Islam Ekstrem: Analisis dan Pemecahannya (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 42-46).

Ulama salafi sejati berpandangan: “Sungguh aku selalu mencarikan alasan pembenaran bagi saudaraku sampai tujuh puluh kali. setelah itu, aku berkata, ‘Mungkin masih ada alasan lain yang tidak kuketahui’.” Akan tetapi, bagi kaum ekstrim, siapa saja yang bertentangan pendapat dengan mereka segera saja mereka tuduh “telah melakukan maksiat atau bid’ah (mengada-ada dalam agama) atau telah meremehkan Sunnah Nabi”.

Baca Lanjutannya…

Baru-baru ini, sekelompok orang Islam di Indonesia menuntut pelarangan ajaran Ahmadiyah dan pembubaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia, yang keyakinannya dipandang menyimpang dari tuntunan Alquran, kitab suci umat Islam. Akan tetapi, Muhammadiyah (dan NU) tidak demikian. Sikapnya adalah memilih tetap berdialog.

Saya dapat memaklumi sikap Muhammadiyah ini. Saya pun semakin memakluminya ketika saya berusaha menjawab pertanyaan akhi Mizan (dari Singapura) sebagai berikut.

Alhamdulillah, penerangan ustaz sangat bermenafaat buat saya. Boleh ustaz beri pendapat pribadi berkaitan soalan : “I am religion; religion is me; I don’t own religion”. Ustaz pernah datang ke Muhammadiyah Singapura?

Soalan bagus. Untuk menjawabnya, mungkin kita perlu mempertanyakan: Wajibkah menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk dalam beragama?

Baca Lanjutannya…

Posted by: M Shodiq Mustika | 2 Mei 2008

Problematika Istilah Islam Moderat by Adian Husaini

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-152: Akhir-akhir ini seperti sudah menjadi keharusan opini di berbagai media massa, bahwa di zaman globalisasi, corak keberislaman yang ‘baik’ adalah menjadi Muslim yang moderat. Dengan kata lain, bukan menjadi Muslim yang liberal atau yang radikal. Istilah “moderat” ini dimunculkan dan dipopulerkan oleh berbagai kalangan, baik cendekiawan, kepala Negara/pemerintahan Muslim, atau tokoh-tokoh agama. Apakah sebenarnya makna “Islam moderat”, yang kadang-kadang disamakan dengan istilah “ummatan wasatha”?

Baca Lanjutannya…

Ciri Salafi ‘Extreme’ adalah Suka Memaksakan Hujjah Demi Memuaskan Nafsunya

oleh

Ibnu Abdul Muis  

http://ihwansalafy.wordpress.com/2008/03/17/ciri-salafi-extreme-adalah-suka-memaksakan-hujjah-demi-memuaskan-nafsunya/ 

Entah sampai kapan aku bisa membuang ingatanku akan kebencian orang-orang salafi extreme terhadap ulama, mujahid, syuhada, mujadid atau muslim lainnya yang tidak berafiliasi dalam kelompok mereka. Terus kucoba untuk bisa menerima pemikiran mereka dalam karakterku sebagai manusia yang mendambakan ukhuwah. Tapi, entah mengapa, selalu saja kulihat dan kutemukan keanehan yang dipaksakan oleh mereka. Salah satunya adalah ketika mereka beranggapan bahwa manhaj muwazanah atau menimbang kebaikan dan keburukan bukanlah prinsip yang diterapkan oleh para salafus shalih. Mereka justru mengganggap [baca: memaksakan] bahwa metode al-Jarh wat Ta’dil-lah manhaj yang terbaik yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Alhasil, secara sadar ataupun tidak sadar, kebiasaan mengghibah, mentahdzir, menjarh, mencela, menghina bahkan memfitnah menjadi makanan yang paling lezat, yang kita yakini sebagai salah satu bentuk pembelaan terhadap agama Islam.

Baca Lanjutannya…

Posted by: M Shodiq Mustika | 16 Februari 2008

Haruskah mengikuti aliran tertentu seperti Muhammadiyah dan NU?

Haruskah kita mengikuti aliran Islam tertentu semisal Muhammadiyah dan NU, padahal kewajiban kita hanyalah mengikuti firman Allah SWT dan sunnah rasul-Nya? Pertanyaan ini mengingatkan saya pada pertanyaan pribadi saya: haruskah saya menempuh studi lanjut secara formal di perguruan tinggi tertentu? Bukankah kewajiban kita hanyalah belajar dan bukan bersekolah?

Jawaban saya sederhana. Bila memang efisien dan efektif untuk menuntut ilmu, maka sebaiknya saya menempuh studi lanjut secara formal. Kalau kurang efisien dan kurang efektif, tak perlu saya menempuhnya. Begitu pula dalam beraliran agama. Kalau mengikuti aliran tertentu itu menjadikan Anda berislam dengan lebih seutuhnya, maka silakan lakukan. Kalau ternyata mendirikan “aliran” sendiri (beranggotakan satu orang, yakni diri sendiri) lebih efisien dan efektif, ya ini saja yang sebaiknya Anda lakukan. Jelas?

Posted by: M Shodiq Mustika | 28 Januari 2008

saran bagi Muhammadiyah untuk menyikapi liberalisme Islam

Baru saja saya baca buku karya Suciati, Mempertemukan Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah (Yogyakarta: Arti Bumi Intaran, 2006). Bagian yang paling menarik di buku tersebut di mata saya adalah bagian “Penutup” yang berisi sepuluh saran bagi JIL dan Muhammadiyah. (hlm. 214-216)

Baca Lanjutannya…

Posted by: M Shodiq Mustika | 21 Januari 2008

mengapa warga Muhammadiyah bisa memahami sikap Gus Dur

Banyak orang, termasuk warga NU sendiri, sulit memahami sikap Gus Dur. Namun, tak sedikit warga Muhammadiyah yang justru bisa memahaminya. Mengapa?Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat kita jumpai di buku Abd. Rohim Ghazali (ed.), Gus Dur dalam Sorotan Cendekiawan Muhammadiyah (Bandung: Mizan, 1999), terutama pada artikel Imam Addaruquthni, “Membaca Sikap dan Gaya Kepemimpinan Gus Dur”, hlm. 82-89:

Baca Lanjutannya…

Posted by: M Shodiq Mustika | 14 Januari 2008

aku cinta Yenny Zannuba Wahid

Selaku orang awam, aku kurang mengenal Yenny Zannuba Wahid, putri Gus Dur. Hanya sesekali aku melihat wajahnya di televisi. Namun tulisannya, “Mengaktualkan Sinergi NU-PKB” (Jawa Pos, 4 Januari 2008), membuatku jatuh cinta kepadanya.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori