Haramkah belajar agama dari buku?

Ada yang bilang, belajar agama Islam itu harus punya guru yang ada “sanad”-nya (bersambung terus sampai Nabi Muhammad SAW). Pertama kali saya mendengarnya dari orang-orang “Islam Jamaah” yang kini menjelma menjadi LDII. Pekan lalu, saya mendengarnya lagi (tepatnya: membacanya) dalam komentar seseorang di blog saya yang di situ dan di sana. (Saya tidak tahu apakah dia dari LDII atau bukan. Dia menggunakan nama samaran yang selalu berlainan walaupun isi komentarnya sama persis.)

Dia berkata antara lain:

… seharusnya memiliki guru, yang mana ada sanadnya, bahwa seorang yang tidak memiliki guru kemudian menafsirkan dan menyimpulkan dari apa yang dia baca sendiri baik dari buku2 maupun dari forum yang tanpa guru yang shahih, maka sudah pasti syetan akan mudah menjerumuskan orang itu. Dalam sebuah hadits jelas dikatakan bahwa seorang yang hanya berguru pada buku maka setanlah yang berada didekatnya atau bahkan menjadi gurunya. Untuk ini saya kira anda juga paham..

Tidak. Saya belum paham. Benarkah ada hadits shahih yang mengatakan dengan jelas “bahwa seorang yang hanya berguru pada buku maka setanlah yang berada didekatnya atau bahkan menjadi gurunya”? Haramkah belajar agama dari buku?

Saya memperoleh informasi lain dari buku Khaled Abou El Fadl, Musyawarah Buku: Menyusuri keindahan islam dari kitab ke kitab (Jakarta: Serambi, 2002). Kebetulan, saya teringat kembali pada buku yang pernah saya baca ini. Sebab, buku tersebut kemarin diulas di kolom “Di Balik Buku”, Jawa Pos, Minggu, 6 Juli 2008.

Dalam ulasan di kolom tersebut, dikatakan:

Jika di masa lalu perbalahan pemahaman (keagamaan) di tengah umat Islam melahirkan sebukit buku yang bermutu, [maka] hasil yang muncul dari palagan kontestasi penafsiran di tengah kita saat ini tak lebih dari pseudo-buku berisi daftar nama tokoh yang dituding sebagai kafir. Buku-buku yang justru anti-buku dan hanya menghasut para pembacanya untuk menghina aktivitas berfikir dan melecehkan olah nalar. Menghujat kiri-kanan, menanamkan kepicikan, dan menangkarkan kebencian yang mengingkari kepelbagaian.

Nah, bagaimana menurut Anda? Kalau memang buku agama yang beredar di antara kita sebetulnya anti-buku, haramkah membacanya?

Comments
22 Responses to “Haramkah belajar agama dari buku?”
  1. ai mengatakan:

    kalo Anda ingin tahu ya mustinya mengkaji quran hadist langsung, untuk mengetahui jawaban pastinya. bukan nyari referensi buku lainnya. sama aja boong kan mas.. saya pernah menmbaca sebuah hadist, laula isnada ma qola sa’a ma sa’a.., jika tanpa isnad memang orang bisa berkata apa saja yg dikehendakinya. just my opinion… smoga bermanfaat

  2. M Shodiq Mustika mengatakan:

    @ ai
    Apabila buku itu mencantumkan rujukannya, bukankah dengan demikian ada isnadnya? Apakah isnad itu harus langsung secara lisan dari guru?

  3. WIJAYA mengatakan:

    kalau ada yang tahu detailnnya hadist (perowi/surat berapa /jus/hal berapa) tentang tidak bolehnya kita belajar agama tanpa guru mohon diinformasikan,biar tidak ada polemik lagi. sebelumnya diucapkan terima kasih.

  4. panduanhaji mengatakan:

    Boleh saja belajar dari buku, tapi lebih baik ada gurunya

  5. Alif mengatakan:

    Setahu saya itu ada di kitab ihya ulumuddin karangan imam al gazali yang di ambil dari ucapan seorang sufi bernama abu yazid albustami “barang siapa tiada bermursyid(guru pembimbing) maka mursyidnya adalah setan.

  6. Muhammad Y Iskandar mengatakan:

    Berdasarkan Ayat dibawah ini :

    Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…. (AL ISRAA’ 17 : 36)

    Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; Maka siapakah yang akan menunjuki orang yang Telah disesatkan Allah? dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. (Al Israa’17:29)

    dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS ATH THALAAQ 65:12)

    …. ingatlah bahwa Sesungguhnya Dia Maha meliputi segala sesuatu. QS (Fushshilat 41:54)

    “Jika engkau bertaqwa kepada Allah SWT nicaya akan engkau anugerahi furqon di hatimu.” (QS. Surat Al Anfal:29)

    Bertaqwalah kepada Allah niscaya Allah mengajarkanmu.” (QS. Al Baqarah:282)

    Kalau kita mau renungi ayat-ayat diatas pasti paham, karena kalau dijelasin terlalu panjang, kesimpulan menurut saya adalah belajar tanpa guru bisa di lakukan dengan syarat harus bertakwa dulu, orang takwa pasti pintar, orang pintar pasti berilmu, orang berilmu pasti berhati-hati dalam menjaga dan menerima ilmu dari pihak manapun, sehingga ilmu yang diterimanya bukan hanya sekedar dogma, tapi merupakan suatu ilmu pemahaman yang dapat diterima akal manusia dan sesuai syariat atau hukum-hukum agama yang telah diajarkan Rasulullah.

  7. Fahmy Muhammad mengatakan:

    السلامعليكم….
    Boleh Belajar dr Buku, tp hanya sbg referensi / spintas mbaca saja, tnp d amal kn trlebih dahulu. Final y nanti apabila sdh kita hadap kn dgn Ulama yg Haq Ilmu (yg sanad & Nasab ilmu y sampe kpd Rasulullah). Beliau lh nanti y yg melurus kn manakala ada trdapat kekeliruan.

    MANFAAT BERGURU adalah agar trhindar dr perkara2 sesat & mnghindari Fitnah.

    Adapun fungsi……

    SANAD, yaitu mencegah manusia untuk berbicara semau y / seenak gue, atau bicara hanya brdasar kn dr kerangka otak y doang.

    Dengan Sanad, maka Hal2 yg d ajar kn Rasulullah akan trjaga keaslian isi ilmu y, tanpa ada d kurangi atau di tambah-tambah (di Modifikasi Manusia )…moga brmanfaat..Wassalam (^_^)

    • ali mengatakan:

      wah repot juga ya kalo kita mau baca harus punya sanad yang sampai kepada nabi,lalu apa apa gunanya kalo kita kita bisa bahasa arab,yang dgn itu kita bisa baca kitab kitab berbahasa arab,jadi mandek dong-ga berkembang geto loch

  8. IFUL511 mengatakan:

    masuk juga ya…Ke BlogQ…

    http://www.saiful511.wordpress.com

    apa betul haram,,belajar dari buku???

  9. Abu Qatadah Al Atsari mengatakan:

    BAGAIMANA HUKUMNYA BELAJAR AGAMA TANPA MURSYID / BERGURU (Dengan hanya Melalui Benda-benda Mati: Buku-buku, Artikel, Blog, dsb)…????

    SEDANGKAN:
    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…. (AL ISRAA’ 17 : 36)..

    “Barang siapa tiada bermursyid (guru pembimbing) maka mursyidnya adalah setan.” (Ihya Ulumuddin)

    * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
    JAWAB:
    Boleh Belajar dari Buku, tapi hanya sebagai referensi / sepintas membaca saja tanpa di amal kan terlebih dahulu. Final nya nanti apabila sudah kita hadap kan dengan Ulama yg Haq Ilmu (yg SANAD & NASAB ilmu nya sampai kpd Rasulullah). Beliau lah (si Ulama tsb) nanti nya yang melurus kan manakala ada terdapat kekeliruan.

    MANFAAT BERGURU adalah agar terhindar dari perkara-perkara yang SESAT & untuk mnghindari FITNAH.

    Adapun fungsi…..

    SANAD, yaitu mencegah manusia untuk berbicara semau nya / seenak Gue, atau bicara hanya berdasar kan dari kerangka otak nya doang.

    DENGAN SANAD, maka Hal-hal yang d ajar kn Rasulullah, terjaga keaslian isi ilmu y, tanpa ada d kurangi atau di tambah-tambah (DI MODIFIKASI MANUSIA).

    ( “laula isnada ma qola sa’a ma sa’a” = jika tanpa isnad memang orang bisa berkata apa saja yg dikehendakinya. )

    Belum ada dalam sejarah seorang ulama besar lahir dari belajar kepada buku saja. Ilmu adalah keahlian dan setiap keahlian membutuhkan ahlinya, maka untuk mempelajarinya membutuhkan muallimnya yang ahli.

    Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid berkata, “Ini hampir menjadi titik kesepakatan di antara para ulama kecuali yang menyimpang.”

    Ada ungkapan, “Barangsiapa masuk ke dalam ilmu sendirian maka dia keluar sendirian.” Syaikh Bakr berkata, “Maksudnya barangsiapa masuk ke dalam ilmu tanpa syaikh maka dia keluar darinya tanpa ilmu.”

    Syaikh Bakr menukil ucapan ash-Shafadi, “Jangan mengambil ilmu dari shahafi dan jangan pula dari mushafi, lalu Syaikh Bakr berkata, “Yakni jangan membaca al-Qur`an kepada orang yang membaca dari mushaf dan jangan membaca hadits dan lainnya dari orang yang mengambilnya dari buku.”

    Sebagian ulama berkata,
    مَنْ لَمْ يُشَافِهْ عَالِمًا بِأُصُوْلِهِ
    فَيَقِيْنُهُ فِي المُشْكِلاَتِ ظُنُوْنُ
    Barangsiapa tidak mengambil dasar ilmu dari ulama
    Maka keyakinannya dalam perkara sulit adalah dugaan

    Abu Hayyan berkata,
    يَظُنَّ الغَمْرُ أَنَّ الكُتُبَ تَهْدِي
    أَخَا فَهْمٍ لإِدْرَاكِ العُلُوْمِ
    Anak muda mengira bahwa buku membimbing
    Orang yang memahami untuk mendapatkan ilmu
    وَمَا يَدْرِي الجَهُوْلُ بِأَنَّ فِيْهَا
    غَوَامِضَ حَيَّرَتْ عَقْلَ الفَهِيْمِ
    Orang bodoh tidak mengetahui bahwa di dalamnya
    Terdapat kesulitan yang membingungkan akal orang
    إِذَا رُمْتَ العُلُوْمَ بِغَيْرِ شَيْخٍ
    ضَلَلْتَ عَنِ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيمْ
    Jika kamu menginginkan ilmu tanpa syaikh
    Niscaya kamu tersesat dari jalan yang lurus
    وَتَلْتَبِسُ الأُمُوْرُ عَلَيْكَ حَتَّى
    تَصِيْرَ أَضَلَّ مِنْ تُوْمَا الحَكِيْمِ
    Perkara-perkara menjadi rancu atasmu sehingga
    Kamu kebih tersesat daripada Tuma al-Hakim

    Moga Bermanfaat…..

    (Pesan Penulis:
    Penulis tidak Luput dari Salah & Khilaf, Jika terdapat Kekeliruan Harap d BetuL kn, Demi menghindari Hal2 Sesat & Fitnah, Mutala’ah & Hadapkan Kembali kepada para Ahli nya )

  10. jucdr mengatakan:

    Pada tahun 1931 nurhasan ini diberitakan pergi ke tanah suci mekkah. Mari kita lihat situasi kondisi tahun 1931 di tanah suci mekkah. Pada tahun 1931 para ikwah salaf muwahhid sukses menyebarkan dakwah ahlusunnah wal jamaah (salafiyyin) ke seluruh antero jazirah arab. Tidak hanya itu saja. Para ikwah ini juga sukses secara politis dengan berdirinya daulah wal wilayaah dibawah keimamahan Malik Abdul Aziz as-Saud. Kemudian dikenalah menjadi Mamlakah Arab Saudi. Imamah Abdul Aziz ini syah menurut syariat. Karena Diseluruh jazirah Saudi, Abdul Aziz As-Saud ini adalah penguasa tertinggi diwilayah itu, berdaulat dan mempunyai wilayah al hukam (geopolitik) yang jelas, masyur dan alhamdulillah bisa melaksanakan hukum syariat islam. Mari bandingkan dengan imamahnya Nurhasan ini. Punya daulah?punya kekuasaan?mu’tabar? mashur? Diakui oleh kaum musliminin di Indonesia? Tidak. Jauh api dari panggang. Imamah nurhasan dan pengikutnyanya rahasia. Misterius, ditutup-tutupi, apalagi wilayah dan daulah. Imamah seperti itu tidak dikenal dalam ahlusunnah wal jama’ah. Imamah seperti itu hanya dimiliki dan dikenal oleh syiah Imamiah atau gaya kepausan katolik roma. Imamah 354 punya utopia”sebelum imamah kami berjaya menjokamkan indonesia, kami menggunakan gaya imamah bitonah dulu,nanti kalau sebagian besar orang indonesia jadi orang jokam barulah imamah kami tidak bitonah”. Itulah mimpi disiang hari bolong. Atau bitonah ini adalah langkah agar kerajaan gelap 354 aman dari kritisi syariat . Tidak, kebatilan akan selalu diungkap dan terungkap. Nurhasan itu malik Abdul Aziz wanna be. Berspekulasi melakukan petualangan politik mewujudkan mamlakah seperti Malik Abdul Aziz, namun kandas. Jadilah ‘imamah abal-abal’ seperti yang kita lihat sekarang. Kemafiaan akidah. Nurhasan juga mengalami historical coincidental yaitu ketika nurhasan kembali ke Indoneisa tahun 1941. Masa-masa itu Diindonesia memang sedang mengalami era revolusi. Muso, Syarifuddin prawiranegra, Kahar muzakar, Andi Aziz,
    kartosuwiryo, Daud Beureuh mengusung konsep daulah masing-masing. Di jawa barat, kartosuwiyo mendirikan Imamah wa daulah dan memproklamirkan Negara islam indonesia, namun dapat ditumpas oleh gerakan pagar betis Divisi Siliwangi. Amir Fattah dan Jamaah Muslimin juga mengusung kekhalifahan dan beat dimana nurhasan juga sempat bergabung dibawahnya. Semua peristiwa itu mengilhami pada Nurhasan untuk bersikap latah “ah gue juga mau jadi khalifah” “gue mau kayak malik Abdul Aziz” “gue punya konsep yang lebih baik dari Amir fattah dan Kartosuwiryo”. Maka mulailah Nurhasan melakukan petualangan dan spekulasi politiknya. Terjadilah beat Al hukam tahun 1962 di lapangan Gading. Nurhasan lalu membuat basis “wilayah” pertama di gading mangu. Oleh karena itu jokam 354 asal gading dinamakan “muhajir’ dikalangan 354. bahkan muhajir ini ada pengajian khususnya.(gading ini diibaratkan kota madinah oleh nurhasan, yang merupakan wilayah dari daulah islamiyah Rasulullah SAW) Di Teks Cai bahkan disebut Nurhasan berkata “jadinya muhajir ini adalah jadinya jamaah, gagalnya muhajir ini adalah gagalnya jamaah’. Jadi sebenarnya Nurhasan tahu, kalau Imamah Alhukam yang syariat harus ada daulah wal wilayah. Maka gadingmangu dijadikan “negara” awal jokam 354. Hal ini yang luput dari pengetahuan para pengikutnya. Pengikutnya memang tetap dikondisikan tidak tahu, agar ambisi ini dapat terwujud. Nurhasan ingin mewujudkan sebuah tatanan masyarakat ideal, namun maen tabrak sana-sini dalam upayanya. Bahkan sampai menyimpangkan syariat. Akhirnya kepenyimpangan kian jauh dan kian mengkristal.tujuan yang awalnya idealisme akhirnya menjadi metamorfosis menjadi kepentingan pragmatisme karena memang tidak didirikan dilandasan dan ushul yang benar. Salah di pondasi. Seperti bikin rumah tingkat megah, udah berdiri tapi pondasinya rapuh. Hanya kelihatan besar tapi sebenarnya rapuh. Petinggi 354 pun bingung. Parapakubumi yang belajar ditanah sucipun sebanarnya tahu bahwa konsep jamaah ala 354 itu menyimpang, tapi disatu sisi mereka merasa sayang untuk melakukan pembenahan karena melihat jamaah yang terlihat besar dengan segala asetnya. Akhirnya munculah teori-teori baru pembenaran dari KH dan AZ pakubumi walaupun mereka harus menentang ilmu yang didapat,amanat dari gurunya dan mungkin hatikecilnya. Mereka takut kalau pembenahan akan mengakibatkan larinya pengikut dan lepasnya loyalitas. Mereka menggunakan logika sederhana, padahal apabila rujuilal haq, insyaAllah yang didapat mereka adalah kebarokahan. Sengaja atau tak sengaja, ini malah ngepasi dengan kelakuan para Rabi-rabi yahudi, yang sebenarnya tahu kebenaran, tapi ketika disampaikan ke pengikutnya, para rabi ini justru menyimpangkan kebenaran. Para pengikut Yahudipun lebih memilih rabi-rabi itu, bahkan para nabi Allah yang bertugas untuk membenahi bani Israil justru banyak yang dibunuh.Rabi-rabi yahudi jugalah yang mengobrak-ngabrik syariat Allah. Mirip gaya 354 dengan menggunakan istilah ‘ijtihad imam’.Inilah yang dimaksud Rasulullah menthogutkan pembesar-pembesarnya dan tidak mengembalikan kebenaran dengan pemahaman yang benar.(tapi apa kata imam dan pakubumi aja deh)

  11. Al kulimi mengatakan:

    Kita sebagai orang islam harus mempunyai prinsip ” samikna wa athokna”. Tentu prinsip ini di ibangi dgn belajar agama yg benar. Kebenaran yg mutlak itu ajaran rosulullah, pemahaman benar hanya pemahaman sahabat, tabiut,tabiin. Belajar dengan buku harus selektip dlm memilih tak semua buku, bs kita baca. Nanti salah tafsir. Apalagi sekarang ini banyak buku yg menyesatkan. Peganglah prinsip ini, setiap ibadah harus ada dalil shahih, dan pemahaman dalil harus dr pemahaman sahabat yg telah di terangkan oleh para ulama robbani, bukan dr ulama jahat yg menjual agama karena hawa nafsu dan dunia. Hati dlm belajar agama, kt di hisab di akhirat nanti individu, yg menolong kita hanya amal ibadah yg benar.Kelompok, partai,guru, kyai, tdk akan dpt menolong kita. Hindarilah bid’ah dan memahami agama dgn akal dan hawa nafsu. Kalau mau menambah wawasan agama kunjungi http://www.yufid.com, tulis masalah agama yg anda mau insyaallah ada jawabannya.

  12. abdi mengatakan:

    Ass. saya belajar agama dari buku dan internet, dari situ saya bisa melihat satu masalah dari berbagai segi sehingga kita akhirnya mengerti dan bisa memahami secara utuh. Kalau anda bilang haram untuk belajar dari buku maka dimana sunatullah Islam yang mengharuskan kita belajar dari buaian sampai ke liang lahat, apabila hanya tahu dari satu guru, kita hanya bisa melihat dari pandangan sedalam pemahaman guru tersebut. Banyak yang bilang kalau belajar agama tanpa guru maka gurunya adalah setan, setan apabila yang didapat secara sembarangan tetapi apabila kita meneliti dan menyeleksi dengan baik dan berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, saya yakin Allah akan membimbing kita menemukan bahan yang benar. Insya Allah

  13. anang gegauk mengatakan:

    Belajar dari buku, boleh saja. Belajar dari guru bisa saja sesat jika gurunya pikirannya sesat atau tidak menyampaikan apa yang semestinya disampaikan. Kesimpulannya kita boleh belajar dari buku ataupun dari guru, yang penting kita selektif dan membandingkan dengan banyak informasi lain yang sesuai dengan Qur’an dan nash yang shahih.

  14. Chidir mengatakan:

    Kita diperintahkan Allah swt untuk mempelajari Al Quran, tentunya dg dilandasi taqwa dan niat mendapat Ridho Allah. karena Al Quran sudah dimudahkan untuk dipelajari: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” [Al Qomar 17,22,32,40]

  15. ahmad D mengatakan:

    klo menurut logika saya…gimana klo kita mau menjadi seorang pilot…tapi hanya belajar teori dari buku aja…tanpa ada seorang pelatih yg membimbing….bukan hanya diri kita…para penumpangpun akan ikut celaka….gitu ajalah,,,

  16. satyo mengatakan:

    tentunya, belajar ilmu agama/akhirat berbeda dengan ilmu dunia. Ilmu agama inilah yang akan membawa kita jalan ke surga/neraka. menurut pemahaman saya, belajar paling baik melalui bimbingan guru, karena selain bisa langsung tanya jawab, guru pun bisa langsung mengoreksi kalau ada kesalahan. bukankah Rasulullah berguru ke malaikat Jibril?

  17. yunusu mengatakan:

    1 + 1 = 2
    Kita tidak mampu membaca dari angka diatas kecuali ada yg mengajari…setelah kita belajar dg guru kita tahu bahwa 1 itu satu,,2 itu dua ,= (dibaca sama dengan)..baru kita bisa membaca satu tambah satu samadngan dua

Lacak Balik
Check out what others are saying...
  1. [...] Haramkah belajar agama dari buku? Ditulis pada 7 Juli 2008 oleh M Shodiq Mustika [...]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.