Konsultasi: Bingung Pilih Islam Yang Mana

saya bingung… ketika mulai mendekati kiamat, islam akan terbagi menjadi 73 golongan… golongan mana yang seharusnya dipilih? kenapa bisa terpecah begitu? kenapa tidak bersatu? apakah rasul menganjurkan umatnya untuk menggolongkan agamanya? afwan ya… saya bingung banget… mohon bantuannya… saya takut kalau saya termasuk 72 golongan agama islam yang tidak di ridhoi allah…

Tanggapan M Shodiq Mustika:

0) Aku memahami kebingunganmu. Memang, ini merupakan persoalan serius yang tak bisa kita abaikan begitu saja.

1) Hadits yang menyebut “islam akan terbagi menjadi 73 golongan” (tanpa menyebut “ketika mulai mendekati kiamat”) tidak disepakati oleh para ulama mengenai keshahihannya. (Lihat “Kedudukan Hadits Perpecahan Umat Jadi 73 Golongan“.) Dengan demikian, aku tidak bisa memastikan apakah benar Islam akan terbagi menjadi 73 golongan.

2) Allah berfirman, “Sesungguhnya ini adalah agama kamu semua, agama yang satu; dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 92) Ungkapan “agama yang satu” pada ayat ini maksudnya adalah “sama dalam pokok-pokok kepercayaan dan pokok-pokok Syari’at”.

Adapun dalam masalah-masalah cabang (bukan pokok), Islam itu terbagi menjadi golongan-golongan yang sangat banyak, sampai tak terhitung. Perbedaan ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. Sepeninggal beliau, di zaman shahabat Nabi, perbedaan ini bertambah banyak. Begitu pula selanjutnya, perbedaan dalam masalah-masalah cabang ini semakin banyak. (Lihat “Mengapa Ulama Berlainan-Pendapat Walau Sama-sama Berpijak pada Al-Quran“.)

3) Kenapa Islam tidak satu saja dalam segalanya, termasuk dalam masalah cabang-cabang? Aku tidak tahu pasti. Yang pernah aku pelajari, Rasulullah saw. memperbolehkan para shahabat untuk berbeda-beda dalam berbagai masalah cabang. Kalau beliau saja membolehkan perbedaan itu, bukankah mestinya kita juga membolehkannya? (Lihat “Perlukah Menyatukan Pendapat Umat Islam dalam Masalah Syariah?“)

4) Golongan mana yang seharusnya sebaiknya dipilih? Mengenai pertanyaan semacam ini, aku pernah menjumpai sebuah penjelasan yang menarik dari tulisan Ahmad Soleh Firdaus Habibi, Spd.I., “Perbedaan, Mengapa dan Bagaimana!?” yang telah dimuat dalam Buletin Lembar Informasi dan Da’wah No.: 002/I/2007 PRM Parungbingung-Depok, diantaranya sbb:

Ilustrasi

Era reformasi di Indonesia diawali antara tahun 1997-1998, menurut hitung-hitungan hal tersebut baru saja terjadi sepuluh tahun yang lalu.
Pada prihal yang baru saja terjadi tersebut kita saat ini telah mendapati begitu banyak versi cerita, ada cerita versi BJ. Habibi, Wiranto, Kiflan Zen, Prabowo, LSM dan lain-lain.

Tidakkah kita seharusnya memaklumi, menerima dan mengakui adanya begitu banyak persi tentang Risalah yang dibawa Muhammad Rasulullah SAW!? Bukankah kita terpisah jauh dengan Rasulullah, baik waktu maupun ruang?

Memilih Firqah?

Setiap individu, baik secara langsung maupun tidak, pastilah tergabung ke dalam suatu kelompok/firqah tertentu. Bahkan ketika seseorang mengatakan ”saya tidak berkelompok” itu berarti dia telah menciptakan kelompok baru. Semua firqah yang ada mengklaim bahwa kelompok merekalah yang paling benar.

Dalam keadaan yang demikian kita harus memilih. Memilih haruslah yang paling benar dan yang terbaik.Untuk mengetahui mana yang paling benar dan paling baik adalah dengan membandingkan secara adil dan obyektif seluruh firqah yang ada di hadapan kita.

Membandingkan tentulah harus dengan meneliti dan mempelajari setiap firqah dengan sungguh-sungguh sesuai kapasitas dan kemampuan maksimal yang dimiliki setiap individu. Mempelajari setiap firqah secara cerdas dan obyektif dengan tidak menilai suatu firqah (firqah lain) dari sudut pandang firqah tempat dimana kita berada atau bergabung saat melakukan penelitian.

Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik diantaranya…” (QS. Az-Zumar: 18)

Mengikuti Keseluruhan atau sebagian?

Manusia -baik sendiri maupun berkelompok- berpotensi berbuat kesalahan. Setiap firqah dibuat/didirikan dan dipimpin oleh manusia atau sekelompok manusia. Maka, setiap firqah berpotensi salah, baik bagian-bagiannya maupun keseluruhannya-. Maka sah bagi setiap individu untuk mengikuti suatu firqah tertentu, baik secara menyeluruh maupun secara parsial saja. Sejauh kepengikutannya tersebut didasarkan atas penelitian sesuai kapasitas dan kemampuan maksimal yang dimilikinya.

Tentu saja, ikhtiar seperti itu akan lebih bagus lagi bila disertai dengan doa. Adapun doa yang relevan untuk menentukan pilihan adalah doa istikharah.

Demikianlah tanggapanku. Kuharap dengan penjelasan itu, kau tidak kebingungan lagi.

Wallahu a’lam bi ‘ilmih.

Satu Tanggapan ke “Konsultasi: Bingung Pilih Islam Yang Mana”

  1. Tegor Says:

    Betul juga Mas.
    Tapi Istikharoh yang anda arahkan sepertinya membimbing kita juga ke arah spisifikasi pengertian fungsi visi misi istikharoh yang kita lakukan berasal dari pendapat dan bimbingan siapa.
    Saya di sisni kurang tahu mengenai asal dari do’a istikharoh.
    Kita masih dibuat bingung ketika kita tahu bahwa penganut jenis firqoh tersebut juga dilakukan pemilihannya dengan istikharoh kemudian hasilnya yang tetap berbeda-beda penentuan akhir penentuan firqoh yang kita ikuti.
    Dan kita tetap berada di keberagaman madzhab/firqoh.


Tinggalkan Balasan