Dapatkah menebus dosa zina dengan menikah (tanpa restu orangtua)?

Saya seorang wanita telah menjalin hubungan selama beberapa tahun dengan kekasih saya. Selama itu, hubungan saya dengan dia tidak direstui oleh kedua orang tua saya. Awalnya, ketidak setujuan orang tua saya karena dia tidak satu suku dengan saya. Selain itu, ortu saya juga mempermasalahkan pekerjaan kekasih saya, karena dia hanya wiraswata yang baru memulai usahanya. Selama itu, kami tidak menyerah tuk mempertahankan apa yang menurut kami tidak salah. Kami yakin, kami bisa bertahan bersama.

Suatu hari, kami melakukan kesalahan. Saya dan dia “berhubungan lebih dekat”. Kami melakukannya karena kami ingin mengikat satu sama lain. Kami tak ingin terpisahkan. Kini, kami berdua sadar bahwa yang telah kami lakukan itu salah dan dosa besar. Karena itu, kami ingin menebusnya dengan menikah. Kami ingin kembali bertaubat bersama di jalanNya.

Akan tetapi, upaya perwujudan niat kami itu tidak mulus. Pihak kelurga saya makin keras menentang hubungan kami, sedangkan keluarga pihak kekasih malah yg sangat mendukung untuk kami segera menikah. (Keluarga kami berdua tidak tahu sejauh mana sdh kedekatan kami. Kami tidak ingin mengecewakan mereka dengan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi antara kami berdua.)

Yang ingin aku tanyakan, apa yang harus kami lakukan tuk bisa menggugah hati ortuku dan mereka mengerti keinginan kami tanpa kami harus mengatakan keeratan hubungan kami yang salah?? Dan apabila kami menikah dan bertaubat, mungkinkah ALLAH mengampuni kami??

Jawaban M Shodiq Mustika:

Yang pasti, Baca entri selengkapnya »

Doa Supaya Tidak Jadi Perawan Tua

Sekarang umur saya 27th. Sampai sekarang, saya belum menikah. Menurut saya pribadi, [itu] bukan masalah karena saat ini saya masih kuliah dan saya percaya jodoh akan datang bila waktunya sudah tepat karena hanya Allah yang tahu kapan waktu yang tepat buat saya. Tapi yang jadi pikiran saya adalah keluarga saya, terutama ibu saya. Kebetulan kami tinggal di desa; untuk usia saya sekarang, sudah termasuk ‘perawan tua’. Ibu saya berpikir kalo ada orang yang sengaja ‘nyarati’ saya (misal: membaca surat ikhlas biar saya
tidak dapat jodoh (tidak laku) dan menjadi perawan tua) mungkin karena kesalahan saya atau keluarga saya kepada orang itu tanpa kami ketahui. Maaf, Pak, apakah dalam islam ada hal seperti itu? Jika benar saya sudah “disyarati” orang, bagaimana cara menangkal atau melepaskan diri dari itu biar saya terbebas dari ‘penyaratan’ itu? Saya mohon solusi dari Bapak, terima kasih.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Pertanyaanmu ada dua. Berikut ini jawabanku satu per satu.

Baca entri selengkapnya »

Usai onani, haruskah mandi besar?

Seorang pembaca artikel “Kecanduan masturbasi: Cara mengatasinya” bertanya, “apakah onani/masturbasi merupakan hadats besar yang apabila setelah melakukakannya harus mandi besar? atau cukup berwudhu saja?”

Jawaban M Shodiq Mustika:

Baca entri selengkapnya »

Mengapa mendoakan Nabi

Saat browsing tadi, kujumpai satu pertanyaan menarik: “temanku non muslim bilang Nabi Muhammad belum selamat di akhirat, maka beliau minta seluruh umatnya mengirimi shalawat kepadanya. … Bagaimana menjawabnya?”

Baca entri selengkapnya »

Sentuhan syetan di wajah orang yang tekun beribadah

Kuis: “Apakah di lingkungan sosial Anda, biasanya Anda merasa bahwa Anda tergolong orang yang paling saleh?” Silakan jawab di dalam hati masing-masing dengan sejujur-jujurnya. Lalu marilah kita simak sebuah kisah dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih berikut ini. (Harapanku, kita bisa menjadi lebih rendah hati dalam menekuni ibadah, terutama di bulan Ramadhan ini.)

Di hadapan Nabi dan para sahabat, Abu Bakar Shiddiq memuji-muji seseorang yang sangat bagus ibadahnya. Namun, Baca entri selengkapnya »

Tertibkan tempat maksiat dengan bijaksana!


Nahdlatul Ulama (NU) tidak akan menempuh cara-cara kekerasan dalam menertibkan tempat-tempat maksiat seperti tempat hiburan malam, kafe dan warung remang-remang. “Cara-cara yang ditempuh sesuai dengan pedoman Pengurus Besar NU dalam bermasyarakat, yakni menggunakan pendekatan “bil hikmah“. NU tidak menginginkan adanya kekerasan sesama warga,” kata Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kota Pekalongan KH Musthofa Bakri kepada kontributor NU Online Abdul Muiz di Pekalongan, Rabu (27/8) tadi malam.

Baca entri selengkapnya »

Rambu-Rambu Ibadah — Ustadz Qomar Suaidi

Di tengah rutinitas menjalankan aktivitas ibadah, bisa jadi tidak semua muslim paham makna ibadah itu sendiri. Padahal, ketidakpahaman makna ibadah bisa mengakibatkan tertolaknya ibadah yang dilakukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al Ubudiyyah menerangkan, ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu Wata’ala. Bisa terdiri dari ucapan maupun perbuatan, baik nampak maupun tidak…

Pendapat Al Qurthuby bisa melengkapi penjelasan Ibnu Taimiyyah. Menurut Al Qurthuby, Baca entri selengkapnya »