Kelompok Moderat Harus Jadi Moderator

Liberalisme dan radikalisme merupakan dua ideologi yang selalu berada dalam posisi berhadapan. Dua ekstrim itu selalu menjadi pemicu konflik ideologis di antara berbagai kepentingan politik dan ekonomi. Proses politik dan ideologisasi sistem itu tak pernah lepas dari pergesekan dan persinggungan yang terkadang diakhiri pertumpahan darah. Pertentangan ideologis itu juga dipengaruhi oleh media massa Barat yang cenderung memojok Islam dan kaum Muslim. Bagaimana mestinya peran negara dan kelompok moderat?

Berikut perbincangan Reporter CMM dengan Ismatillah Nu’adz, seorang peneliti CMM tentang liberalisme dan radikalisme:

Kenapa antara Liberalisme dan Radikalisme selalu terjadi pertentangan yang begitu besar?

Antara liberalisme di dunia Barat dan radikalisme di dunia Timur—terutama dalam hal ini Islam dikatakan sebagai sebuah agama itu terjadi pertentangan—dikarenakan banyak isu-isu diselundupkan oleh media. Kita jangan jadi orang yang bodoh, yang kadang-kadang selalu dikontrol oleh media, diselundupkan isu-isu bahwa telah terjadi radikalisme dan liberalisme yang ekstrim di dunia Islam. Dua hal itu selalu dibenturkan. Padahal, di negeri liberalisme berasal, yaitu Amerika, perkembangannya Islam di sana semakin bertambah. Saya kira itu adalah barokah dari liberalisme. Karena di sana iklimnya liberal, agama apa pun dapat masuk ke sana, sehingga masyarakat Amerika sudah mulai melirik Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin yang sangat relevan dalam konteks masyarakat sekarang ini.

Bagaimana peran media massa dalam konteks menjamurnya radikalisme?

Radikalisme menjadi isu-isu yang sengaja diselundupkan oleh media-media tertentu untuk menyudutkan Islam. Kalau kita melihat konteksnya, kita harus kembali secara sosiologis, misalnya kenapa di dunia Islam itu terjadi radikalisme? Kenapa di Irak terjadi radikalisme? Karena itu adalah invasi Amerika. Karena ada invasi Amerika, masyarakat di sana menjadi radikal. Kita tidak boleh terkena begitu saja oleh isu-isu media yang menyudutkan salah satu pihak. Kita sebagai masyarakat demokratis dan cerdas, kita harus dapat memilah dan memilih media-media mana saja yang dapat kita terima.

Nampaknya media yang Anda maksud itu mempropaganda dan membentuk opini bahwa Islam itu teroris?

Ya, saya kira demikian. Menyangkut isu-isu terorisme, kita harus pandai- pandai melihatnya karena kelompok-kelompok teroris ini sebenarnya hanya menggunakan kekerasan atas nama agama (Islam). Mereka melakukan aksi-aksi kekerasan di wilayah-wilayah yang menurut mereka itu adalah musuh mereka, misalnya di Bali itu ada kaum kafir yang melakukan upaya-upaya glamoritas (gaya hidup berfoya-foya) di sana dan ada upaya-upaya dehumanisasi dan segala macam. Padahal mereka menggunakan kekerasan-kekerasan itu atas nama agama.

Apakah itu bentuk kesalahpahaman mereka dalam memahami teks-teks agama?

Benar, mereka salah dalam menafsirkan ajaran-ajaran dan teks-teks agama tertentu. Kadang-kadang teks-teks yang mereka pergunakan itu sangat dipaksakan, misalnya jihad. Jihad mereka pahami hanyalah perang, padahal dalam Islam itu, jihad mempunyai makna yang sangat luas. Jihad juga bisa diartikan sebagai upaya keras untuk mendapatkan suatu hal. Tapi oleh mereka istilah jihad ini disalahartikan dan ditafsirkan seenaknya saja, perbuatan mereka pun hanya menyengsarakan umat Islam. Karena yang melakukan tindak kekerasan itu hanya segelintir orang saja, maka isu terorisme yang dikaitkan dengan Islam itu saya kira sangat tidak logis.

Lalu, bagaimana pengaruh kedua ideologi ini terhadap pola pikir keagamaan umat Islam saat ini?

Kalau kita melihat seorang penulis dari Barat, misalnya Bernard William yang pernah menulis bahwa kepulauan Nusantara ini sudah dimasuki oleh berbagai peradaban, termasuk peradaban China, India, Arab, dan Barat. Artinya potensi masyarakat kepulauan Nusantara ini sangatlah kaya, karena dulu kepulauan Nusantara dikenal sebagai jalur perdagangan. Jadi, banyak dimukimi oleh berbagai peradaban. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat Islam di Nusantara itu menerima ideologi atau menerima agama dari peradaban lain.

Kedua ideologi ini (liberalisme dan radikalisme) sangat mungkin terselundupkan di masyarakat kita. Hanya persoalannya, bagaimana kemudian kita bisa supaya lebih arif lagi menerima ideologi atau agama yang menurut kita tidak baik. Jadi kita harus bisa mengambil dari sisi-sisi positif dari ideologi atau paham-paham tertentu yang masuk dalam masyarakat kita. Pertentangan kedua ideologi itu sangat dimungkinkan, hanya persoalannya bagaimana peran negara dan kelompok-kelompok Islam yang—saya kira selama ini—sangat moderat bisa memediasi kedua kelompok ini supaya mereka tidak melakukan tindakan-tindakan yang sangat fanatis. Karena hal itu dapat menyebabkan bangsa kita bisa menjadi lebih rusak.(CMM) http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=P4445_0_3_0_C 

Comments
One Response to “Kelompok Moderat Harus Jadi Moderator”
  1. el ha mengatakan:

    Bagaimana peran media massa dalam konteks menjamurnya radikalisme?

    Bagaimana peran blog dalam konteks menjamurnya radikalisme?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s