mengapa warga Muhammadiyah bisa memahami sikap Gus Dur

Banyak orang, termasuk warga NU sendiri, sulit memahami sikap Gus Dur. Namun, tak sedikit warga Muhammadiyah yang justru bisa memahaminya. Mengapa?Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat kita jumpai di buku Abd. Rohim Ghazali (ed.), Gus Dur dalam Sorotan Cendekiawan Muhammadiyah (Bandung: Mizan, 1999), terutama pada artikel Imam Addaruquthni, “Membaca Sikap dan Gaya Kepemimpinan Gus Dur”, hlm. 82-89:

Di antara sikap yang paling menonjol dari sosok K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pemimpin umat adalah bagaimana sikapnya terhadap tokoh-tokoh agama lain; dia begitu bersahabat, tidak menganggap mereka sebagai musuh. Sikap seperti itu, di kalangan Muhammadiyah, sejatinya, merupakan sikap yang biasa-biasa saja. Sikap Gus Dur tampak istimewa karena dia berada dalam lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

Di lingkungan Muhammadiyah, sikap seperti itu sudah ada sejak masa K.H. Ahmad Dahlan. Kiai Dahlan, dengan kalangan non-Muslim, katakanlah Barat, bukan saja bersahabat, melainkan juga “meniru” apa yang telah dilakukan Barat, misalnya saja dalam gaya berpakaian, dan—yang lebih substansial—gaya (metode) dalam mengembangkan pendidikan.

Lebih jauh dari itu, Kiai Dahlan bahkan mau menerima sumbangan dana dari Barat yang nyata-nyata (pada saat itu) menjajah kita. Padahal, umumnya umat Islam waktu itu, jangankan mau menerima sumbangan, meniru tingkah laku orang Barat saja sudah dianggap kafir. Man tasyabbaha biqaumin, fahuwa minhum (Barang siapa yang meniru gaya suatu kelompok orang—misalnya orang Kafir—maka ia termasuk dalam kelompok itu). Inilah dalil yang sangat populer di kalangan pemimpin Islam waktu itu.

….

Pola pikir dan pola tingkah laku seperti yang dikembangkan Gus Dur, seperti yang diungkapkan di awal tulisan ini, di kalangan Muhammadiyah, bukan hal baru. Ini bisa dipahami karena budaya yang dikembangkan dalam Muhammadiyah adalah sikap-sikap yang rasional. Meskipun dalam batas-batas tertentu—terutama di kalangan mudanya—rasionalitas NU lebih maju dari Muhammadiyah, hanya saja secara umum, proses penyesuaian diri komunitas Muhammadiyah lebih cepat dibanding komunitas NU. Ini disebabkan karena Muhammadiyah hidup dalam lingkup sosial yang lebih kosmopolit dibandingkan NU.

Comments
One Response to “mengapa warga Muhammadiyah bisa memahami sikap Gus Dur”
  1. herman mengatakan:

    Dalam surga, Amin Rais ketemu dengan Gusdur

    Amin Rais,” Eg Gus, kok anda dalam surga, padahal ente, sholat tarawihnya 23 rakaat, pake saidina Muhammad pula, ”

    Gusdur, ” eh Mas Amin, terkejut saya, kok sampeyan bingung – bingung, gitu aja repot, kita ini kan sama – sama umat Muhammad SAW, yang penting kita jaga dan ikuti Alquran dan Sunnah Rosul, yo wes… masuk surga. Ente di dunia dulu, ribut melulu soal bid’a. “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s