Wajibkah menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk dalam beragama?

Baru-baru ini, sekelompok orang Islam di Indonesia menuntut pelarangan ajaran Ahmadiyah dan pembubaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia, yang keyakinannya dipandang menyimpang dari tuntunan Alquran, kitab suci umat Islam. Akan tetapi, Muhammadiyah (dan NU) tidak demikian. Sikapnya adalah memilih tetap berdialog.

Saya dapat memaklumi sikap Muhammadiyah ini. Saya pun semakin memakluminya ketika saya berusaha menjawab pertanyaan akhi Mizan (dari Singapura) sebagai berikut.

Alhamdulillah, penerangan ustaz sangat bermenafaat buat saya. Boleh ustaz beri pendapat pribadi berkaitan soalan : “I am religion; religion is me; I don’t own religion”. Ustaz pernah datang ke Muhammadiyah Singapura?

Soalan bagus. Untuk menjawabnya, mungkin kita perlu mempertanyakan: Wajibkah menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk dalam beragama?

Kita tahu bahwa Mahmoud Mohamed Taha (1909-1985), seorang ulama dari Sudan, menyatakan bahwa penyebab dihentikannya misi kenabian (Qs al-Maidah [5]: 3) adalah bahwa dengan itu Allah telah siap untuk mengajari manusia secara langsung, tidak melalui jibril. Untuk itu, tugas kita ialah sungguh-sungguh berusaha mencari petunjuk-Nya dan memohon kepada-Nya, “ihdinash shiraathal mustaqiim” (tunjukilah kami jalan orang-orang lurus). Untuk mencari petunjuk-Nya, sumber utama kita adalah Al-Qur’an.

Bagaimana dengan orang-orang yang tidak menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk dalam beragama? Berdosakah? Mari kita telaah.

Orang-orang yang tidak menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk dalam beragama ini terbagi dalam dua macam:

1) orang yang sudah melihat kebenaran dan keutamaan Alquran;

2) orang yang belum melihat kebenaran dan keutamaan Alquran. [Keadaan ini terjadi dalam dua kasus: (1) orang yang belum tersentuh oleh dakwah; (2) orang yang sudah tersentuh oleh dakwah, tetapi lantaran kelemahan para dai yang berdakwah secara kurang sempurna, orang yang telah didakwahi itu belum melihat kebenaran dan keutamaan Alquran.]

Orang-orang yang sudah melihat kebenaran dan keutamaan Alquran itu wajib menjadikan Alquran sebagai sumber utama untuk mendapatkan petunjuk Allah. Jika tidak, maka mereka berdosa.

Lain halnya dengan orang-orang yang BELUM melihat kebenaran dan keutamaan Alquran. Mereka TIDAK wajib menjadikan Alquran sebagai sumber untuk mendapatkan petunjuk Allah. Jika keyakinan dan cara ibadah mereka tidak sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadits, maka mereka TIDAK berdosa. Demikianlah keterangan dari ustaz Yunahar Ilyas, seorang Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (Lihat M Dien Syamsuddin, dkk, Pemikiran Muhammadiyah: Respons terhadap Liberalisasi Islam (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2005), hlm. 287-288.)

Dalilnya: “… dan Kami tidak akan mengazab [seseorang] sebelum Kami mengutus rasul [kepadanya].” (QS al-Isra’ [17]: 15)

Secara demikianlah kita dapat menilai pernyataan “I am religion; religion is me; I don’t own religion”. Jadi, meskipun pernyataan tersebut tidak sesuai dengan tuntunan Alquran (Ali Imran [3]: 19 dan 85), orang-orang yang meyakini pernyataan tersebut tidak berdosa jika belum melihat kebenaran dan keutamaan agama Islam. Sungguhpun demikian, kita perlu mendakwahinya dengan sesempurna-sempurnanya, supaya mereka melihat kebenaran dan keutamaan agama Islam, sehingga mereka menyatakan, “My religion is Islam. My primary source is Alquran.

Demikian jawaban saya. Oh ya… Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Maksud hati melancong ke Singapura, Malaysia, dan negara-negara lain, apa daya uang tak cukup. Siapa mau bantu?

Comments
9 Responses to “Wajibkah menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk dalam beragama?”
  1. danalingga mengatakan:

    Kita tahu bahwa Mahmoud Mohamed Taha (1909-1985), seorang ulama dari Sudan, menyatakan bahwa penyebab dihentikannya misi kenabian (Qs al-Maidah [5]: 3) adalah bahwa dengan itu Allah telah siap untuk mengajari manusia secara langsung, tidak melalui jibril. Untuk itu, tugas kita ialah sungguh-sungguh berusaha mencari petunjuk-Nya dan memohon kepada-Nya, “ihdinash shiraathal mustaqiim” (tunjukilah kami jalan orang-orang lurus). Untuk mencari petunjuk-Nya, sumber utama kita adalah Al-Qur’an.

    Sungguh mencerahkan. Terutama jika ternyata kita pahami bahwa AQ itu bukan hanya buku, melainkan seluruh alam ciptaan Tuhan.:mrgreen:

  2. kang4roo mengatakan:

    KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK “Leoxa.com”
    (Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)

  3. syahrizal pulungan mengatakan:

    kini gusdur membuat satu wacana baru

    gusdur bersedia jadi saksi ahli untuk ahmadiyah silahkan berkunjung ke :

    http://asahannews.wordpress.com/2008/05/05/gus-dur-bersedia-jadi-saksi-ahli-ahmadiyah/

  4. Juba Islam mengatakan:

    ALLOHUAKBAR!!!!!

    MARI KITA SAMBUT GEMBIRA TENTANG PENYERBUAN FPI!!!
    MENYERANG AKK-BB

    ALHAMDULILLAH,
    SEMOGA HAL INI TERUS TERULANG KEMBALI

    ALLOHUAKBAR!!!
    PENASARAN BALAS KE islamjuba@gmail.com

  5. @ Juba Islam

    saya ndak enasaran kok. banyak juga yg setipe kayak gitu. kalo jarang2 mungkin saya baru akan penasaran😀

  6. ariefdj™ mengatakan:

    ” Wajibkah menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk dalam beragama? ”

    ..tergantung untuk agama apa dulu ? .. kalo Islam, ya rujukannya kan jelas ajah pake Al Qur’an.. Kalo alasannya belum tau, ya kalo emang agamanya Islam, ya pelajarilah kitab sucinya..

    Soal Ahmadiyah, kalo mereka gak ngaku2 sebagai Islam, ya gak masalah pake kitab suci apa juga nabinya siapa, gak ada urusan.. Selama mereka gak pake simbol2 Islam, ya monggo2 mawon.. Pernyataan bahwa kitab suci umat Islam itu Al Qur’an dan Nabi terakhir bagi umat (muslim) itu adalah Muhammad saw, itu sudah merupakan PAKEM.. Kalo ada yg berkitab suci lain dan nabi terakhirnya yang laen, yo jangan ngaku2 Islam.. Bikin ajah agama sendiri..

  7. RATNA DUMILAH mengatakan:

    Buat akang Juba, kita main-main bunuh-bunuhan yu..?
    tapi di hotel kang, jangan marah ya kang.
    Iman akang emang kuat , tapi otaknye didengkul kali ye….he…
    hee….
    Maaf ya Kang, kapan mau nyerbu lagi akang.

  8. toni mengatakan:

    Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir….Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim…..Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik (QS.5:44-45,47)

  9. M Shodiq Mustika mengatakan:

    @ toni
    Apakah kau berkomentar berdasar judul saja tanpa membaca isi artikel di atas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s