Berdosakah aku mencium dia, dia, dan dia?

Dengar-dengar, sejumlah orang mengatakan bahwa kita tidak boleh mencium tangan ulama. Mereka berkata, “Itu syirik. Janganlah kamu menyembah yang selain Allah.” Mereka juga bilang, “Itu bid’ah yang sesat. Rasulullah saw. tidak pernah mengajarkannya.”

Benarkah mencium tangan ulama (atau orang lain yang kita muliakan) itu tergolong syirik? Saya mendapatkan sebuah jawaban menarik dari blog Manhaj Salaf:

Apakah mencium tangan seseorang adalah suatu penyembahan kepada orang tersebut? Dari mana mereka bisa berkata seperti itu? Atas dasar apa? Sedangkan Allah telah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam dalam rangka menghormati Adam. Jika mencium tangan ulama adalah syirik, maka malaikat telah berbuat syirik, karena telah sujud kepada selain Allah.

Benarkah mencium tangan ulama (atau orang lain yang kita muliakan) itu tergolong bid’ah? Ternyata, dalam sebuah hadits yang populer dikabarkan bahwa ketika Nabi SAW pulang dari perang Tabuk, beliau bertemu dengan Muaz r.a.. Saat bersalaman, terasa oleh beliau telapak tangan Muaz yang kapalan. Ketika ditanya sebabnya, Muaz menjawab : “Saya membajak tanah untuk nafkah keluarga saya ya Rasullullah!“ Mendengar ucapan Muaz itu, Rasul SAW mencium tangan Muaz dan berkata : “Tangan ini tak akan disentuh api neraka, wahai Muaz.“

Begitulah bila mencium tangan sesama jenis. Bagaimana bila tangan kita dicium lawan-jenis non-muhrim saat berjabat-tangan? Sebuah jawaban menarik saya dapatkan dari Mawlana Shaykh Nazim Al Haqqani:

… Aku tidak meminta para wanita untuk datang mencium tanganku. Tidak! Mereka datang untuk memberikan hormat. Aku tak bisa menolaknya karena aku sedang memanggil orang-orang Eropa, non muslim ke dalam Islam. Mereka masih baru dan jika aku mencegah mereka, hati mereka akan hancur. Mereka akan menuduh Islam tidak punya perasaan.

Kita tidak tinggal di Saudi Arabia, Libya, Algeria, Turkey, Iran atau di Pakistan! Saya sedang syiar di sini, di Eropa. Untuk itu kita dapat menggunakan metode yang Nabi saw gunakan semasa permulaan Islam…

Saya bisa memaklumi alasan Mawlana tersebut. Saya sendiri pernah mengalaminya.

Beberapa kali sewaktu saya menyampaikan tabligh atau pun bersilaturrahim di kawasan perdesaan, beberapa wanita (termasuk yang muda) mencium tangan saya sewaktu menjabat tangan saya. Saya yakin tindakan mereka itu dilatarbelakangi keinginan untuk menghormati saya. Sama sekali tidak ada hasrat birahi pada diri mereka terhadap diri saya saat itu.

Dengan kesadaran begitulah maka pada diri saya pun tidak bangkit nasfu syahwat karenanya. Saya justru berdoa dalam hati, “Ya Allah, mereka memuliakan ilmu-Mu yang mereka pikir ada pada diriku. Karena itu, muliakanlah mereka!”

Lain halnya seandainya sayalah yang mencium tangan wanita-wanita itu, apalagi yang cantik atau menarik seperti Siti Nurhaliza dan Dian Sastrowardoyo. Besar kemungkinan, bangkitlah nafsu birahi saya. Kalau begini, maka saya tergolong “mendekati zina” yang terlarang.

Bagaimana dengan Anda?

Comments
7 Responses to “Berdosakah aku mencium dia, dia, dan dia?”
  1. antox mengatakan:

    menurut saya hal semacam dicium oleh lawan jenis perlu ditekankan untuk dihindari sebagai orang-orang terdahulu yang benar-banr berusaha menghindarkan diri dari bangkitnya nafsu birahi. jika terlalu menggampangkan suatu perkara hal itu menjadikan kita menggampangkan perkara-perkara ynag lain.

  2. Maximillian mengatakan:

    Argumen yang menarik, saya mendapati perbedaan pendapat semacam ini menarik untuk kita diskusikan, terutama apabila dimensi kehidupan kita luas dari segi ruang.

    Mengenai toleransi dan pentahapan dalam memahamkan objek dakwah memang membutuhkan telaah yang mendalam.

    Saya izin link ke weblog personal.

    Terima kasih

  3. reekoheek mengatakan:

    ada konsep tabaruk… mungkin ini cuma salah satu motif…
    terimakasih

  4. rifki mengatakan:

    aq setuju banget dengan pendapat kawan,,
    tapi untuk nonmuhrim lebih baek dihindari,,
    lebih baik menjaga daripada mengobati..

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] kita ada tradisi jabat tangan, termasuk antara pria-wanita yang bukan muhrim (bahkan sampai cium tangan). Bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Marilah kita simak petuah/fatwa dari Abdul Halim Abu […]

  2. […] di Indonesia ada tradisi jabat tangan, termasuk antara pria-wanita yang bukan muhrim (bahkan sampai cium tangan). Bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Marilah kita simak petuah/fatwa dari Abdul Halim Abu […]

  3. […] di Indonesia ada tradisi jabat tangan, termasuk antara pria-wanita yang bukan muhrim (bahkan sampai cium tangan). Bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Marilah kita simak petuah/fatwa dari Abdul Halim Abu […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s