Kelahiran Islam Moderat di Indonesia

Awal abad ke-20 ditandai lahirnya gerakan-gerakan Islam yang monumental. Gerakan Islam tersebut telah mengukir tinta emas baik untuk kebangkitan Islam maupun pergerakan perjuangan kemerdekaan di Indonesia, yang kemudian dikenal dengan organisasi kemasyarakatan Islam.

Organisasi kemasyarakatan Islam atau sering disebut Ormas Islam sungguh merupakan pilar penting dan strategis di negeri tercinta ini. Lebih-lebih bagi Ormas Islam tertua yang telah menyertai perjalanan sejarah bangsa ini. Sebutlah Sarekat Islam, Muhammadiyah, Persatuan Islam, Nahdlatul Ulama, dan lain-lain yang telah berdiri jauh sebelum Republik Indonesia lahir. Kiprah gerakan Islam tersebut kendati berbeda orientasi dan aktivitasnya sangatlah nyata. dan secara monumental telah menorehkan tinta emas dalam perjalanan umat dan bangsa tercinta ini.

Ada pasang surut dan dinamika dalam gerakan-gerakan Islam tersebut. Beberapa ormas Islam tersebut sempat menjadi partai politik, tetapi kemudian kembali lagi ke “khittah” sebagai gerakan dakwah dan tidak melibatkan diri dalam kegiatan politik karena ternyata politik telah menimbulkan persoalan-persoalan serius di tubuh ormas Islam dalam menjaga dan melangsungkan eksistensinya sebagai kekuatan dakwah yang bercorak serba melintasi. Politik, lebih-lebih ketika dihimpitkan dengan dakwah, menjadi faktor pemecah-belah dan pada akhirnya hanya mensubordinasikan dakwah pada kepentingan kekuasaan.

Namun, secara umum ormas-ormas Islam tersebut, lebih-lebih pada dua organisasi Islam terbesar di negeri ini seperti Muhammadiyah (berdiri tahun 1912) dan Nahdlatul Ulama (berdiri tahun 1926) tetap menjaga dan memperkokoh posisi dan perannya dalam dinamika kehidupan umat, bangsa, dan dunia global sebagai kekuatan dakwah dan misi Islam sebagai rahmatan li‘l-‘alamin. Kendati kini muncul gerakan-gerakan Islam yang tampak lebih “memikat” hati sebagian umat dengan karakternya yang cenderung militan, skriptural, dan ideologis (politik); namun secara umum keberadaan dan peran ormas-ormas Islam yang lahir awal abad ke-20 itu tetap istiqamah dan memberi warna keseimbangan sebagai kekuatan Islam moderat.

Pandangan keagamaan kaum reformis-modernis berbeda dari pandangan kaum “integralis” dan “sekuler” Islam. Dalam memandang kaitan Islam dengan politik misalnya, menurut Munawir Sadzali kalangan “integralis” menyatukan Islam dan negara/politik secara mutlak sebagaimana tercermin dalam kelompok formalisme Islam. Kaum “sekuler” menganut paham pemisahan Islam dari politik atau negara sebagaimana yang terjadi di Barat. Sedangkan kaum modernis lebih menekankan pada transformasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan politik/negara ketimbang menyatukan atau sebaliknya memisahkannya secara mutlak sebagaimana dua paham lainnya. Dari perbedaam tiga orientasi paham Islam tersebut maka Islam reformis-modernis lebih berada dalam posisi di tengah, yang membangun keseimbangan antara “pemurnian” dan “pembaruan”, sehingga sering disebut dengan kelompok dan orientasi Islam “moderat”.

Islam moderat, sebenarnya memiliki rujukan pada sifat umat Islam sebagaimana tersurat dalam Al-Qur’an sebagai “muqtashid” yang mengandung makna sosok “tengahan” yang senantiasa menjaga keseimbangan, menjadi petunjuk, istiqamah, adil, dan mudah (Lihat Al-Qur’an surat Lukman: 19, 32; Al-maidah: 66; An-Nahl: 9; At-Taubah: 42; Al-Furqan: 67; Al-Qashash: 77; Al-Baqarah: 201-202; dan di ayat lainnya serta Hadits Nabi). Islam moderat tersebut merupakan cerminan dari corak “Ummat Wasatha” yang menjadi ciri dari kualitas dan sosok “Khaira Ummah” sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Ali Imran 110. Sikap moderat tersebut bukan berarti tanpa sikap yang jelas dan benar dalam beragama, tetapi menunjukkan sikap yang tidak berlebih-lebihan dalam beragama (ghulul). Dalam wacana mutakhir Islam moderat berbeda secara diametral dengan sikap Islam “radikal” dan “fundamentalis”, baik yang cenderung pada alam pikiran konservatif maupun sekuler dengan sikap serba “ekstrem” atau berlebihan dalam memahami dan mempraktikkan ajaran Islam.

Muhammadiyah sebagai salah satu sayap terbesar Ormas Islam Indonesia bersama Nahdlatul Ulama sejak berdirinya dikenal sebagai kekuatan Islam reformis atau modernis yang bersikap moderat. Watak modernis atau reformis selalu berorientasi pada nilai, bukan pada formalitas struktur. Kaum reformis (modernis) meyakini sifat “al-sumuliyat al-Islam” atau kemenyeluruhan Islam sebagaimana pada umumnya keyakinan gerakan-gerakan Islam; tetapi tidak terjebak pada skripturalisme dan strukturalisme yang serba monolitik dan absolut sebagaimana ditemukan dalam kelompok Islam yang berkarakter “integralis” (“fundamentalis”). Islam reformis atau modernis lebih mengutamakan isi ketimbang struktur, kendati mengakui dalam sejumlah hal struktur itu penting. Kaum reformis (modernis) seperti Muhammadiyah lebih menekankan pada orientasi dakwah untuk “mengislamkan” masyarakat ketimbang memformat Islam ke dalam negara atau lebih-lebih membentuk “negara” Islam. Dalam relasi sosial-keagamaan dengan pihak lain pun lebih bersikap lentur, kendati tetap menjaga prinsip.

——-
NB: Tulisan di atas merupakan kutipan dari DR. H. Haedar Nashir, M.Si, “REVITALISASI MUHAMMADIYAH SEBAGAI ORMAS ISLAM MODERAT (Bagian 1: Kelahiran Islam Moderat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s