Muhammadiyah sebagai Ormas Islam Moderat

Muhammadiyah sebagai kekuatan Islam moderat tidaklah mengada-ada karena watak dasarnya sejak awal memang moderat. Muhammadiyah tidak masuk ke ranah dan menjadi kekuatan politik sebagaimana Sarekat Islam. Muhammadiyah menurut temuan Deliar Noer tidak sekeras Persatuan Islam, kendati sama-sama menampilkan corak gerakan Islam modern. Muhammadiyah dalam berakidah kendati sering diidentikkan sebagai bercorak “salafiyah”, namun watak dan orientasi pemikirannya lebih kuat pada tajdid (pembaruan), sehingga boleh dikatakan sebagai “salafiyyah tajdidiyah” atau salafiyah-reformis. Azyumardi Azra bahkan mengkategorisasikan Muhammadiyah sebagai “salafiyyah washathiyyah” atau “salafiyah tengahan”, untuk membedakannya dari salafiyah atau gerakan “salafi” yang kini menunjukkan eksistensinya sebagai “harakah” yang cenderung serba literal dan kaku.

Tokoh dan pendiri Muhammadiyah Kiai Haji Ahmad Dahlan sering dipertautkan sosok-sosok pembaru Islam seperti Ibn Taimiyyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridla, dan sebagainya. Namun, secara khusus Kiai Dahlan menurut banyak peneliti atau pemerhati jauh lebih dekat dengan Muhammad Abduh ketimbang dengan yang lainnya, sehingga lebih menampilkan sosok dan wajah moderat. Dalam konteks khusus, bahkan Kiai Dahlan sangat kultural, mungkin karena lahir dan dibesarkan dalam lingkungan dan pusat kebudayaan Jawa yakni Yogyakarta. Kiai Dahlan dekat dengan kaum “nasionalis” di Boedi Oetomo, dengan Semaun yang sosialis-kiri, dan berdialog dengan para pendeta di Yogya dan Magelang; di samping bergaul dekat dengan tokoh- puncak Serikat Islam seperti Cokroaminoto dan Agus Salim.

Bagaimana Muhammadiyah dengan politik? Muhammadiyah kendati sempat bersinggungan dengan Partai Islam Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) pada tahun 1945-1959, sebagaimana juga Serikat Islam (1945-1948) dan Nahdlatul Ulama (1945-1952); namun tidak menjadikan dirinya sebagai partai politik, meskipun tentu saja setiap kekuatan sosial di mana pun tidak akan lepas seratus prosen dari pengaruh dan proses politik terutama dalam koridor politik kebangsaan, untuk mendorong atau berpartisipasi dalam membangun bangsa dan negara ke arah yang lebih baik. Namun, sejak awal Muhammadiyah tidak pernah memosisikan dirinya sebagai kekuatan apalagi partai politik sebagaimana Serikat Islam di masa lampau atau partai-partai politik Islam di kemudian hari hingga saat ini. Karena itu, secara organisatoris sejak tahun 1971 Muhammadiyah memagari dirinya dengan “Khittah”, bahwa organisasi ini tidak merupakan bagian dari dan tidak ada hubungan apa pun dengan kekuatan atau partai politik mana pun.

Karena itu, Muhammadiyah pun berbeda dari gerakan Islam mana pun yang menjadikan politik sebagai ranah gerakannya, di samping atau bersama-sama menggarap ranah dakwah. Muhammadiyah secara teologis memang meyakini atau memahami bahwa Islam mencakup seluruh dimensi kehidupan termasuk politik. Tetapi, Muhammadiyah memandang politik sebagai “al-umur al-dunyawiyyah” (urusan duniawi) yang aktualisasinya berada dalam ranah ijtihad, termasuk pilihan untuk tidak menggarp lahan politik di jalur perjuangan kekuasaan negara bersama-sama dengan lahan dakwah membina masyarakat. Muhammadiyah sebagaimana paham Islam reformis (modernis) kendati mengakui kemenyeluruhan Islam termasuk dalam bidang politik, namun tidak menghimpitkan Islam sebagai sama dan sebangun dengan politik.

Muhammadiyah berbeda dengan gerakan Islam mana pun yang menghimpitkan gerakan politiknya dengan gerakan dakwah, atau sebaliknya mensenyawakan dakwah dan politik sebagaimana karakter Islam “integralis” (“fundamentalis”) atau Islam “ideologis” yang dipelopori Ikhwanul Muslimin di masa lalu dan kini dianut oleh sebagian gerakan-gerakan Islam baru di Tanah Air sejak era reformasi. Muhammadiyah juga tidak berada dalam satu pemikiran dengan gerakan Islam “ideologis” yang memperjuangkan pelembagaaan syariat Islam secara formal dalam negara atau menjadikan negara syariat dan gerakan Islam sejenis yang memperjuangkan kekhalifahan Islam.

Penghimpitan Islam atau dakwah Islam dengan politik kekuasaan secara sosiologis juga akan menimbulkan benturan selain dengan struktur negara-bangsa atau negara-negara yang sudah terbentuk termasuk di dunia Islam, juga sangat rawan menimbulkan konflik dan ketegangan dengan sesama gerakan Islam yang selama ini menggarap lahan dakwah kemasyarakatan seperti dilakukan oleh ormas-ormas Islam. Penghimpitan perjuangan dakwah atau Islam dengan gerakan politik kekuasaan bahkan membuka peluang politik tiga jurusan yakni dengan sesama kekuatan partai politik, dengan ormas-ormas keagamaan/Islam, dan dengan negara. Lebih dari itu, penghimpitan dakwah dan politik pada akhirnya bermuara pada menjadikan dakwah sekadar alat politik untuk meraih kekuasaan, bahkan menjadikan dakwah sebagai subordinat politik dan kekuasaan.

Muhammadiyah tidak berada dalam genre dan gerakan Islam yang serba monolitik dan politik seperti disebutkan itu. Dalam gerakannya, Muhammadiyah juga lebih menonjolkan orientasi Islam yang berkemajuan dan tidak berorientasi pada kekuasaan politik sebagaimana gerakan-gerakan Islam ideologis era sekarang ini. Di sinilah letak perbedaan sekaligus karakter Muhammadiyah sebagai gerakan Islam moderat. Ideologi Muhammadiyah pun basisnya ialah Islam murni dan berkemajuan, bukan ideologi Islam politik. Di sinilah sikap moderat Muhammadiyah. Sikap moderat Muhammadiyah juga bukan berarti plin-plan dan pragmatis, karena jika menyangkut prinsip akidah dan ibadah atau sesuatu yang fundamental tetap kokoh. Namun, Muhammadiyah tidak pernah mengklaim paling Islami, paling benar, dan sebagai kekuatan alternatif sebagaimana ambisi sekelompok gerakan Islam ideologis tertentu yang muncul di era reformasi pada akhir-akhir ini.

——-
NB: Tulisan di atas merupakan kutipan dari DR. H. Haedar Nashir, M.Si, “REVITALISASI MUHAMMADIYAH SEBAGAI ORMAS ISLAM MODERAT (Bagian 1: Kelahiran Islam Moderat)

Comments
6 Responses to “Muhammadiyah sebagai Ormas Islam Moderat”
  1. erna mengatakan:

    Muhhamadiyah adalah organisasi yang telah beberapa tahun melekat di hati saya. mungkin karena dari Tk sampai sekolah menengah kejuruan, saya memilih sekolah dari yayasan muhamadiyah. saya paham kapan lahir muhamdiyah dan visi nya. sekarang saya sudah lulus sebagai sarjana kebetulan hukum pilihan saya. kira2 bisa ga ya aku mau ikut berkecimpung di muhamadiyah.. bisa ga ya

  2. Muhammad Rachmat mengatakan:

    tapi ISlam kan lebih dulu lahir dari pada Muhammadiyyah , apa betul pa sodik

  3. M Shodiq Mustika mengatakan:

    @ erna
    Tentu bisa. Silaka hubungi pengurus terdekat.

    @ Muhammad Rachmat
    Muhammadiyah = pengikut Muhammad.
    Tentu saja, Nabi Muhammad itu lahir lebih dahulu daripada para pengikutnya.

  4. imam wachidin mengatakan:

    insya allah,tapi harus benar2 di imbangi dengan keikhlasan untuk berjuang demi muha ini,demi tegakna syarikat islam yang jauh dari bid,ah,syirik,harus ada yang militan di tubuh muhamadiyah.yang tepenting harus ada pedoman sendiri di muha.makasih.semoga allah memberikan jalan bagi bagi umatnya yang meneggakan amal maru nahi mungkar,hidup mulia,nati menjadi syahid,

  5. a! mengatakan:

    ah, sayangnya makin hari muhammadiyah yg saya tau makin jauh dari apa yg saya banggakan dulu.

    sebenarnya bukan organisasinya tapi orang2nya. salut tuh sama orang kayak pak syafii, moeslim, dst.

    tp trnyata orang2 semacam itu udah tidak dianggap lagi. banyakan pimpinan muhammadiyah makin konservatif. msh saja brkutat pada masalah aqidah dst.

    padahal hal yg keren dr muhammadiyah adalah perjuangannya ke masalah2 sosial. tp semua itu udah hilang.

    ada jg anak2 JIMM. eh malah dianggap sbg anak durhaka. parah!!

    • M Shodiq Mustika mengatakan:

      Muhammadiyah merupakan perkumpulan orang-orang Islam “reformatif” yang agak heterogen. Ada yang moderat, ada yang cenderung konservatif, ada pula yang cenderung liberal. Namun kalau dirata-rata, sebagian besarnya moderat. Begitu pula sikap terhadap JIL dan JIMM. Yang menerima keberadaannya lebih banyak daripada yang menentangnya. Hanya saja, yang menentang itu lebih vokal, sehingga terkesan lebih banyak.

      Bagaimanapun, saya bersyukur bahwa hingga kini, warga Muhammadiyah menjunjung tinggi musyawarah. Dengan demikian, perbedaan di antara kita tidak membuat kita terpecah-belah. Dibandingkan dengan organisasi besar lainnya, Muhammadiyah masih tergolong paling solid dalam pandangan saya. Wallaahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s