Hargailah perbedaan pendapat masalah aurat!

pak ustad… artikel anda memang sangat bagus… pertimbangan anda dalam bidang fikih memang luar biasa… namun dalam masalah aurat ini mungkin bapak juga harus berhati-hati dalam mengambil keputusan…

yaa,,kita semua memaklumi bahwa kita tinggal di dunia yang sudah terbolak balik… tapi,bukan berarti kita boleh menghalalkan aurat yang sudah ditentukan dalam al-qur’an maupun as-sunnah… memang ulama banyak sekali perbedaan pndapat… smnjak saya mendalami ilmu fikih saya juga merasakan hal tersebut…

tapi, saya sangat menghimbau kpd bapak… janganlah sampai menghalalkan apa yang sudah menjadi ktentuan Allah… karena bisa menimbulkan fitnah di antara umat islam sendiri…. ni, coba bapak baca comment yang diatas… ada yang mengatakan bahwa pake bikini aja…

ini bbahaya pak… kalo bapak sampai menuturkan hal yang membuat kaum muslimin jadi salah paham… jadi saya menghimbau, mungkin kali ini bapak harus memperbaiki artikel ini… saya khawatir pak ada yang mempunyai fikiran jelek dan akhirnya merubah ajaran islam yang sudah tetap…

jujur saya memang kagum dengan ilmu fikih yang bapak dalami, semoga bapak selalu diberi petunjuk oleh Allah… tapi kali ini saya mengkritik nih… gapapa yaa…^u^ tolong diperbaiki ya pak…

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Terima kasih atas nasihat dan kritiknya. Saya senang diberi nasihat dan kritik yang membangun. Sebab, dengan itulah saya bisa memperbaiki diri, termasuk memperbaiki tulisan saya.

Kalau memang saya jumpai kekeliruan dalam tulisan saya, tentulah saya takkan segan-segan melakukan koreksi. Beberapa kali saya telah melakukannya. Hanya saja dalam masalah aurat ini, belum saya jumpai kekeliruan di dalamnya.

Mungkin saja ada pernyataan saya di dalamnya yang keliru menurut Anda, tetapi tidak keliru menurut sejumlah ulama. Haruskah kita mengikuti pemahaman Anda yang tidak sejalan dengan sejumlah ulama itu?

Allah Sang Mahabenar lebih tahu siapakah yang lebih berhati-hati antara yang mewajibkan dan yang mensunnahkan (tidak mewajibkan) penutupan rambut wanita. Seperti sikap Pak Quraish Shihab, saya menghormati kedua macam pandangan tersebut.

Ijtihad bukanlah untuk mengubah sesuatu yang sudah ditentukan oleh Allah secara qath’i. Di paragraf pertama di artikel itu sudah saya ungkapkan:

Dalil-dalil yang sah mengenai aurat wanita atau pun pria tidak semuanya qath’i (tegas) dalam segi dalalah (indikasi). Dengan demikian, masalah aurat itu terbuka untuk ijtihad. Dalam ijtihad, wajar saja jika terdapat perbedaan-perbedaan meskipun sama-sama berlandaskan Al-Qur’an dan hadits shahih.

Selama kita tidak bisa menghadirkan dalil yang qath’i, baik dalam segi sumber maupun indikasi, kita harus menerima terbukanya ijtihad. Secara demikian, kita pun harus menghargai perbedaan pendapat yang timbul lantaran terbukanya ijtihad itu. Meskipun sama-sama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul yang shahih, para ulama dapat berlainan pendapat dalam berijtihad. (Lihat artikel Mengapa Ulama Berlainan Pendapat.)

Saya memahami kekhawatiran Anda. Namun saya pun khawatir kalau-kalau kita berlebihan dalam beragama. Saya tidak mau ikut-ikutan orang yang mengklaim bahwa masalah aurat ini sudah ditentukan oleh Allah secara “tegas” (qath’i), padahal pada kenyataannya tidak qath’i.

Saya kurang tertarik memperdebatkan dalil-dalil yang tidak qath’i. Kalau mau pembahasan yang relatif lengkap terhadap dalil-dalil mengenai aurat wanita, silakan baca buku M Quraish Shihab yang berjudul Jilbab.

Wallaahu a’lam.

Comments
2 Responses to “Hargailah perbedaan pendapat masalah aurat!”
  1. madeh mengatakan:

    apakah anda seorang mujtahid?… lihatlah sejarah para ulama bung, seseorang bisa masuk dalam kategori mujtahid dengan persyaratan yang sangat ketat, ia harus mumpuni (bukan hanya tau) dalam berbagai bidang disiplin keilmuan diantaranya ; ulumul qura’an dari cara bacanya, ilmu lughotnya, istilah2 apa saja yang pake alqur’an, tafsirnya, ushul tafsir, sababunnuzulnya, dan segala hal yang berhubungan dengan alquran, apalagi ilmu2 yang lain, seorang mujtahid harus tau semua lughot yang di pake oleh semua qobilah arab, ingat bung alqur’an dan hadist tidak memakai bahasa Anda… jadi hati-hatilah dalam berkilah tentang dalil yang langsung memakai alquran dan assunnah..
    masalah jilbab adalah hal yang sudah di sepakati oleh para ulama salaf dan khalaf, anda bisa melihat dan mencari artikel Prof. Dr. YUSUF AL QORDOWI, yang menjelaskan tentang hal itu, yang tentu keilmuan beliau lebih mumpuni ketimbang Dr. Quraiys yang di jadikan acuan oleh anda…

  2. liana mengatakan:

    Pak Shodiq, bisakah disampaikan landasan hukum mengenai sunah berjilbab? Mungkin ada benarnya bahwa kita harus berhati-hati dalam pendapat. Karena ini forum yang bisa diakses oleh banyak orang. Salah-salah, kita menyebarkan pemahaman yang menimbulkan mudharat. Jangan sampai kita menjadi ilmuwan jahat karena menyebarkan pemahaman yang tidak mencerahkan, tapi justru membingungkan. Di artikel lainnya, Pak Shodiq menjelaskan kepada seorang penanya mengenai khitbah. Saya bingung dengan logika Pak Shodiq yang menggambarkan bahwa si Penanya (kalau tdak salah namanya Roy) diminta untuk tetap menunggu wanita yang dicintainya hingga kuliahnya selesai–dengan alasan telah dikhitbah. Saya rasa, ada baiknya memahami segala hal tidak melalui kemasannya, tetapi melalui substansinya. Saya kurang tahu terjemahan khitbah. Akan tetapi, sepemahaman saya, khitbah berbeda dengan tunangan. Jarak antara khitbah dengan pernikahan tidak selama seperti penggambaran Pak Shodiq. Khitbah dalam penggambaran Pak Shodiq sama artinya dengan pengijinan pacaran bagi si penanya dan kekasihnya. Islam bukan karena kita berbahasa Arab, tetapi karena jalan hidup kita Islam. Mohon,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s