Konsultasi: Bingung Pilih Islam Yang Mana

saya bingung… ketika mulai mendekati kiamat, islam akan terbagi menjadi 73 golongan… golongan mana yang seharusnya dipilih? kenapa bisa terpecah begitu? kenapa tidak bersatu? apakah rasul menganjurkan umatnya untuk menggolongkan agamanya? afwan ya… saya bingung banget… mohon bantuannya… saya takut kalau saya termasuk 72 golongan agama islam yang tidak di ridhoi allah…

Tanggapan M Shodiq Mustika:

0) Aku memahami kebingunganmu. Memang, ini merupakan persoalan serius yang tak bisa kita abaikan begitu saja.

1) Hadits yang menyebut “islam akan terbagi menjadi 73 golongan” (tanpa menyebut “ketika mulai mendekati kiamat”) tidak disepakati oleh para ulama mengenai keshahihannya. (Lihat “Kedudukan Hadits Perpecahan Umat Jadi 73 Golongan“.) Dengan demikian, aku tidak bisa memastikan apakah benar Islam akan terbagi menjadi 73 golongan.

2) Allah berfirman, “Sesungguhnya ini adalah agama kamu semua, agama yang satu; dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 92) Ungkapan “agama yang satu” pada ayat ini maksudnya adalah “sama dalam pokok-pokok kepercayaan dan pokok-pokok Syari’at”.

Adapun dalam masalah-masalah cabang (bukan pokok), Islam itu terbagi menjadi golongan-golongan yang sangat banyak, sampai tak terhitung. Perbedaan ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. Sepeninggal beliau, di zaman shahabat Nabi, perbedaan ini bertambah banyak. Begitu pula selanjutnya, perbedaan dalam masalah-masalah cabang ini semakin banyak. (Lihat “Mengapa Ulama Berlainan-Pendapat Walau Sama-sama Berpijak pada Al-Quran“.)

3) Kenapa Islam tidak satu saja dalam segalanya, termasuk dalam masalah cabang-cabang? Aku tidak tahu pasti. Yang pernah aku pelajari, Rasulullah saw. memperbolehkan para shahabat untuk berbeda-beda dalam berbagai masalah cabang. Kalau beliau saja membolehkan perbedaan itu, bukankah mestinya kita juga membolehkannya? (Lihat “Perlukah Menyatukan Pendapat Umat Islam dalam Masalah Syariah?“)

4) Golongan mana yang seharusnya sebaiknya dipilih? Mengenai pertanyaan semacam ini, aku pernah menjumpai sebuah penjelasan yang menarik dari tulisan Ahmad Soleh Firdaus Habibi, Spd.I., “Perbedaan, Mengapa dan Bagaimana!?” yang telah dimuat dalam Buletin Lembar Informasi dan Da’wah No.: 002/I/2007 PRM Parungbingung-Depok, diantaranya sbb:

Ilustrasi

Era reformasi di Indonesia diawali antara tahun 1997-1998, menurut hitung-hitungan hal tersebut baru saja terjadi sepuluh tahun yang lalu.
Pada prihal yang baru saja terjadi tersebut kita saat ini telah mendapati begitu banyak versi cerita, ada cerita versi BJ. Habibi, Wiranto, Kiflan Zen, Prabowo, LSM dan lain-lain.

Tidakkah kita seharusnya memaklumi, menerima dan mengakui adanya begitu banyak persi tentang Risalah yang dibawa Muhammad Rasulullah SAW!? Bukankah kita terpisah jauh dengan Rasulullah, baik waktu maupun ruang?

Memilih Firqah?

Setiap individu, baik secara langsung maupun tidak, pastilah tergabung ke dalam suatu kelompok/firqah tertentu. Bahkan ketika seseorang mengatakan ”saya tidak berkelompok” itu berarti dia telah menciptakan kelompok baru. Semua firqah yang ada mengklaim bahwa kelompok merekalah yang paling benar.

Dalam keadaan yang demikian kita harus memilih. Memilih haruslah yang paling benar dan yang terbaik.Untuk mengetahui mana yang paling benar dan paling baik adalah dengan membandingkan secara adil dan obyektif seluruh firqah yang ada di hadapan kita.

Membandingkan tentulah harus dengan meneliti dan mempelajari setiap firqah dengan sungguh-sungguh sesuai kapasitas dan kemampuan maksimal yang dimiliki setiap individu. Mempelajari setiap firqah secara cerdas dan obyektif dengan tidak menilai suatu firqah (firqah lain) dari sudut pandang firqah tempat dimana kita berada atau bergabung saat melakukan penelitian.

Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik diantaranya…” (QS. Az-Zumar: 18)

Mengikuti Keseluruhan atau sebagian?

Manusia -baik sendiri maupun berkelompok- berpotensi berbuat kesalahan. Setiap firqah dibuat/didirikan dan dipimpin oleh manusia atau sekelompok manusia. Maka, setiap firqah berpotensi salah, baik bagian-bagiannya maupun keseluruhannya-. Maka sah bagi setiap individu untuk mengikuti suatu firqah tertentu, baik secara menyeluruh maupun secara parsial saja. Sejauh kepengikutannya tersebut didasarkan atas penelitian sesuai kapasitas dan kemampuan maksimal yang dimilikinya.

Tentu saja, ikhtiar seperti itu akan lebih bagus lagi bila disertai dengan doa. Adapun doa yang relevan untuk menentukan pilihan adalah doa istikharah.

Demikianlah tanggapanku. Kuharap dengan penjelasan itu, kau tidak kebingungan lagi.

Wallahu a’lam bi ‘ilmih.

Comments
8 Responses to “Konsultasi: Bingung Pilih Islam Yang Mana”
  1. Tegor mengatakan:

    Betul juga Mas.
    Tapi Istikharoh yang anda arahkan sepertinya membimbing kita juga ke arah spisifikasi pengertian fungsi visi misi istikharoh yang kita lakukan berasal dari pendapat dan bimbingan siapa.
    Saya di sisni kurang tahu mengenai asal dari do’a istikharoh.
    Kita masih dibuat bingung ketika kita tahu bahwa penganut jenis firqoh tersebut juga dilakukan pemilihannya dengan istikharoh kemudian hasilnya yang tetap berbeda-beda penentuan akhir penentuan firqoh yang kita ikuti.
    Dan kita tetap berada di keberagaman madzhab/firqoh.

  2. muhammad akhirul tri putra mengatakan:

    kLoW salafy btL ngAkK ya,,,,,????

  3. ebidza mengatakan:

    Salam kasih dan damai sejahtera atas saudara yang terkasih…

    Saudara, mungkin jawaban saya adalah memilih yang mengajarkan belas kasihan, cinta kasih dan sayang…

    Semoga Tuhan Memberkatimu.amin.

  4. dudi mengatakan:
    Matematika Pahala Shalat Wajib dan Dosa Diantara Waktu Shalat Sebagaimana tadi telah kita bahas dan hitung, berdasarkan data-data di atas dapat kita simpulkan dalam sehari semalam (24 Jam) point yang dapat kita coba hitung adalah sebagai berikut : • Point Dosa Antara Waktu Shalat dan Istirahat/Tidur (15 Jam), dengan menganggap kita memiliki waktu potensial berbuat dosa dalam rentang waktu 15 jam, dimana anggaplah setiap detiknya ada saja satu dosa kecil yang kita perbuat (bukan termasuk dosa besar). Maka Pointnya adalah sebanyak 54.000 detik (Point). • Point Shalat Kriteria 1 : Shalat Wajib Berjama’ah di Masjid dan di Awal Waktu (Utama), sebanyak 1.701.060 Point. • Point Shalat Kriteria 2 : Shalat Wajib di Awal Waktu dan Dikerjakan Sendiri (Alasan Udzur/Berhalangan karena Sakit, sehingga tidak mampu pergi ke Masjid), sebanyak 50.080 Point. • Point Shalat Kriteria 3 : Mengulur-ulur Pelaksanaan Shalat Wajib baik Berjama’ah/Sendiri (Melalaikan Shalat), sebanyak 32.080 Point. • Point Shalat Kriteria 4 : Tidak Shalat, minimal sebanyak 528.768.000 detik atau point dosa setiap hari. Dari catatan hasil perhitungan di atas, dapat kita buat perbandingan antara mendirikan Shalat wajib yang lima waktu tersebut, kriteria manakah yang benar-benar menjadi penebus dosa sebagaimana sabda Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. A. Kriteria 1 • Point Pahala Shalat Kriteria 1 : 1.701.060 Point. • Point Dosa Harian (Standar) : 54.000 Point. • Sisa Pahala : (1.701.060 Point) – (54.000 Point) = 1.647.060 Point Pahala. (POSITIF) B. Kriteria 2 • Point Pahala Shalat Kriteria 2 : 50.080 Point. • Point Dosa Harian (Standar) : 54.000 Point. • Sisa Pahala : (50.080 Point) – (54.000 Point) = – 3.920 Point Dosa. (MINUS) C. Kriteria 3 • Point Pahala Shalat Kriteria 3 : 32.080 Point. • Point Dosa Harian (Standar) : 54.000 Point. • Sisa Pahala : (32.080 Point) – (54.000 Point) = – 21.920 Point Dosa. (MINUS) D. Kriteria 4 • Point Pahala Shalat Kriteria 4 : NOL Point. • Point Dosa Harian (Standar) : 54.000 Point. • Point Dosa Tidak Shalat : 528.768.000 detik atau point dosa setiap hari. • Sisa Pahala : (0) – (54.000 Point + 528.768.000) = – 528.822.000 Point Dosa. (MINUS) Berdasarkan data-data di atas jelaslah bahwa yang dikatakan Shalat sebagai penebus dosa yang paling sempurna adalah Shalat berdasarkan kriteria 1, yakni Shalat Berjama’ah yang dikerjakan di Masjid dan di Awal Waktu. Karena, yang memberikan hasil positif hanyalah Shalat kriteria 1, sedangkan kriteria lainnya negatif atau minus. Perhitungan di atas setiadaknya dapat menjawab beberapa pendapat ulama yang menganggap Shalat berjama’ah di Masjid ‘hanya’ lebih utama saja, atau dengan kata lain bukanlah suatu kewajiban bagi tiap-tiap individu. Ada yang berpendapat fardhu kifayah, dan sunnah muakad. Ternyata, berdasarkan hitung-hitungan sederhana di atas, perbedaannya sungguh sangat jauh sekali. Sungguh merugi orang yang tidak mengerjakan Shalat sesuai kriteria 1, karena Shalat wajib memang merupakan kewajiban untuk dikerjakan secara berjama’ah di Masjid dan di awal waktu yang telah ditentukan. Bahkan jika dikerjakan secara tepat waktu namun hanya dikerjakan sendirian saja, tetap tidak sebanding dengan Shalat Berjama’ah yang dikerjakan di Masjid di awal waktu. Memang, angka-angka tersebut bukanlah mutlak, namun semua kriteria Shalat tersebut menggunakan variabel yang sama sebagai faktor penghitung dan pengurang. Anda bisa saja merubah beberapa variabel yang dirasa kurang sesuai, misalnya point-point pelaksanaan Shalat anda lebih sempurna dan dosa-dosa kecil yang dikerjakan baik sengaja ataupun tidak disengaja tidak sebesar itu. Silahkan saja, asalkan variabel yang digunakan harus sama. Atau sebaliknya, jika anda merasa dosa harian anda kemungkinan jauh lebih besar dibandingkan data-data di atas, bisa anda tambahkan, misalnya saja kemungkinan tiap detik berbuat 10 dosa sekaligus. Bisa saja, misalnya seseorang yang merokok di angkot, dan angkot tersebut penuh sementara anda enak-enakan merokok dan mencemari seisi angkot yang berisi 12 orang misalnya. Dosa anda pun akan tercatat minimal 12 point setiap saat-nya, karena kita tidak tahu asap rokok yang kita hembuskan ke luar mencemari siapa saja dan selama berapa lama. Itu baru contoh merokok, misalnya anda seorang wanita dan tidak berjilbab, karena rambut adalah aurat yang harus ditutupi, maka setiap pasang mata yang melihat anda merupakan point-point dosa yang terus menerus mengisi tabungan dosa anda. Bayangkan, anda misalnya cantik dan menawan sehingga di mata lawan jenis anda merupakan sosok yang menarik perhatian dan sangat menggoda pandangan. Berpakaian serba terbuka dan mencolok. Kemudian anda jalan-jalan ke mal, dan tentu saja banyak yang akan memandang anda. Entah berapa point dosa setiap detiknya masuk ke rekening dosa anda, melalui orang-orang yang memandang dan ‘mengagumi’ anda. Atau sebaliknya seorang pria yang ke mal mengantar istri pergi belanja, dan mata-nya ikut-ikutan ‘belanja’ melihat yang cantik-cantik dan menarik. Bisa-bisa, pulang dari mal panen dosa. Banyak contoh-contoh lainnya. Silahkan coba analisa dan hitung sendiri, yang jelas angka-angka di atas bukanlah baku, karena masing-masing individu pasti berbeda situasi dan kondisinya. Sekali lagi, hitung-hitungan di atas hanyalah standar atau contoh saja guna membuktikan bahwa Shalat Berjama’ah di Masjid dan di awal waktu memiliki manfaat yang sangat dahsyat sebagai penggempur dosa-dosa kita. Sungguh benar-benar sangat merugi orang-orang yang menganggap remeh terhadap Shalat Berjama’ah di Masjid. Wallahu’alam. Dosa Meninggalkan Shalat Lima Waktu Lebih Besar Dibandingkan Dosa Besar Lainnya Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Kita semua pasti tahu bahwa shalat adalah perkara yang amat penting. Bahkan shalat termasuk salah satu rukun Islam yang utama yang bisa membuat bangunan Islam tegak. Namun, realita yang ada di tengah umat ini sungguh sangat berbeda. Kalau kita melirik sekeliling kita, ada saja orang yang dalam KTP-nya mengaku Islam, namun biasa meninggalkan rukun Islam yang satu ini. Mungkin di antara mereka, ada yang hanya melaksanakan shalat sekali sehari, itu pun kalau ingat. Mungkin ada pula yang hanya melaksanakan shalat sekali dalam seminggu yaitu shalat Jum’at. Yang lebih parah lagi, tidak sedikit yang hanya ingat dan melaksanakan shalat dalam setahun dua kali yaitu ketika Idul Fithri dan Idul Adha saja. Memang sungguh prihatin dengan kondisi umat saat ini. Banyak yang mengaku Islam di KTP, namun kelakuannya semacam ini. Oleh karena itu, pada tulisan yang singkat ini kami akan mengangkat pembahasan mengenai hukum meninggalkan shalat. Semoga Allah memudahkannya dan memberi taufik kepada setiap orang yang membaca tulisan ini. Para ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar lainnya. Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7) Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” (Al Kaba’ir, hal. 25) Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).” (Al Kaba’ir, hal. 26-27) Apakah orang yang meninggalkan shalat, kafir alias bukan muslim? Dalam point sebelumnya telah dijelaskan, para ulama bersepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar bahkan lebih besar dari dosa berzina dan mencuri. Mereka tidak berselisih pendapat dalam masalah ini. Namun, yang menjadi masalah selanjutnya, apakah orang yang meninggalkan shalat masih muslim ataukah telah kafir? Asy Syaukani -rahimahullah- mengatakan bahwa tidak ada beda pendapat di antara kaum muslimin tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Namun apabila meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu itu wajib -sebagaimana kondisi sebagian besar kaum muslimin saat ini-, maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat (Lihat Nailul Author, 1/369). Mengenai meninggalkan shalat karena malas-malasan dan tetap meyakini shalat itu wajib, ada tiga pendapat di antara para ulama mengenai hal ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat harus dibunuh karena dianggap telah murtad (keluar dari Islam). Pendapat ini adalah pendapat Imam Ahmad, Sa’id bin Jubair, ‘Amir Asy Sya’bi, Ibrohim An Nakho’i, Abu ‘Amr, Al Auza’i, Ayyub As Sakhtiyani, ‘Abdullah bin Al Mubarrok, Ishaq bin Rohuwyah, ‘Abdul Malik bin Habib (ulama Malikiyyah), pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, pendapat Imam Syafi’i (sebagaimana dikatakan oleh Ath Thohawiy), pendapat Umar bin Al Khothob (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm), Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya. Pendapat kedua mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dibunuh dengan hukuman had, namun tidak dihukumi kafir. Inilah pendapat Malik, Syafi’i, dan salah salah satu pendapat Imam Ahmad. Pendapat ketiga mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan adalah fasiq (telah berbuat dosa besar) dan dia harus dipenjara sampai dia mau menunaikan shalat. Inilah pendapat Hanafiyyah. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 22/186-187) Jadi, intinya ada perbedaan pendapat dalam masalah ini di antara para ulama termasuk pula ulama madzhab. Bagaimana hukum meninggalkan shalat menurut Al Qur’an dan As Sunnah? Silakan simak pembahasan selanjutnya. Pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Al Qur’an Banyak ayat yang membicarakan hal ini dalam Al Qur’an, namun yang kami bawakan adalah dua ayat saja. Allah Ta’ala berfirman, فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Ash Sholah, hal. 31) Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orang-orang kafir. Pada ayat selanjutnya juga, Allah telah mengatakan, إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا “Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” Maka seandainya orang yang menyiakan shalat adalah mukmin, tentu dia tidak dimintai taubat untuk beriman” Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman, فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (QS. At Taubah [9]: 11). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengaitkan persaudaraan seiman dengan mengerjakan shalat. Berarti jika shalat tidak dikerjakan, bukanlah saudara seiman. Konsekuensinya orang yang meninggalkan shalat bukanlah mukmin karena orang mukmin itu bersaudara sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49]: 10) Pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Hadits Terdapat beberapa hadits yang membicarakan masalah ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ “(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257) Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ “Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566). Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi). Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat. Para sahabat ber-ijma’ (bersepakat) bahwa meninggalkan shalat adalah kafir Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ “Tidaklah disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat.” Dari jalan yang lain, Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam kitab Sunan-nya, juga Ibnu ‘Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209). Saat Umar mengatakan perkataan di atas tatkala menjelang sakratul maut, tidak ada satu orang sahabat pun yang mengingkarinya. Oleh karena itu, hukum bahwa meninggalkan shalat adalah kafir termasuk ijma’ (kesepakatan) sahabat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab Ash Sholah. Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq. Beliau mengatakan, كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ “Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52) Dari pembahasan terakhir ini terlihat bahwasanya Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat bahkan ini adalah ijma’ (kesepakatan) mereka menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir (keluar dari Islam). Itulah pendapat yang terkuat dari pendapat para ulama yang ada. Ibnul Qayyim mengatakan, “Tidakkah seseorang itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik).” (Ash Sholah, hal. 56) Berbagai kasus orang yang meninggalkan shalat [Kasus Pertama] Kasus ini adalah meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana mungkin perkataan sebagian orang, “Sholat oleh, ora sholat oleh.” [Kalau mau shalat boleh-boleh saja, tidak shalat juga tidak apa-apa]. Jika hal ini dilakukan dalam rangka mengingkari hukum wajibnya shalat, orang semacam ini dihukumi kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama. [Kasus Kedua] Kasus kali ini adalah meninggalkan shalat dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya. Bahkan ketika diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang semacam ini berlaku hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, mayoritas ulama salaf dari shahabat dan tabi’in. [Kasus Ketiga] Kasus ini yang sering dilakukan kaum muslimin yaitu tidak rutin dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat dan kadang tidak. Maka dia masih dihukumi muslim secara zhohir (yang nampak pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rohuwyah yaitu hendaklah bersikap lemah lembut terhadap orang semacam ini hingga dia kembali ke jalan yang benar. Wal ‘ibroh bilkhotimah [Hukuman baginya dilihat dari keadaan akhir hidupnya]. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jika seorang hamba melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian, maka baginya keimanan sesuai dengan perintah yang dilakukannya. Iman itu bertambah dan berkurang. Dan bisa jadi pada seorang hamba ada iman dan nifak sekaligus. …Sesungguhnya sebagian besar manusia bahkan mayoritasnya di banyak negeri, tidaklah selalu menjaga shalat lima waktu. Dan mereka tidak meninggalkan secara total. Mereka terkadang shalat dan terkadang meninggalkannya. Orang-orang semacam ini ada pada diri mereka iman dan nifak sekaligus. Berlaku bagi mereka hukum Islam secara zhohir seperti pada masalah warisan dan semacamnya. Hukum ini (warisan) bisa berlaku bagi orang munafik tulen. Maka lebih pantas lagi berlaku bagi orang yang kadang shalat dan kadang tidak.” (Majmu’ Al Fatawa, 7/617) [Kasus Keempat] Kasus ini adalah bagi orang yang meninggalkan shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat membuat orang kafir. Maka hukum bagi orang semacam ini adalah sebagaimana orang jahil (bodoh). Orang ini tidaklah dikafirkan disebabkan adanya kejahilan pada dirinya yang dinilai sebagai faktor penghalang untuk mendapatkan hukuman. [Kasus Kelima] Kasus ini adalah untuk orang yang mengerjakan shalat hingga keluar waktunya. Dia selalu rutin dalam melaksanakannya, namun sering mengerjakan di luar waktunya. Maka orang semacam ini tidaklah kafir, namun dia berdosa dan perbuatan ini sangat tercela sebagaimana Allah berfirman, وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107]: 4-5) (Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, 189-190) Penutup Sudah sepatutnya kita menjaga shalat lima waktu. Barangsiapa yang selalu menjaganya, berarti telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang sering menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.” Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.” (Lihat Ash Sholah, hal. 12) Oleh karena itu, seseorang bukanlah hanya meyakini (membenarkan) bahwa shalat lima waktu itu wajib. Namun haruslah disertai dengan melaksanakannya (inqiyad). Karena iman bukanlah hanya dengan tashdiq (membenarkan), namun harus pula disertai dengan inqiyad (melaksanakannya dengan anggota badan). Ibnul Qoyyim mengatakan, “Iman adalah dengan membenarkan (tashdiq). Namun bukan hanya sekedar membenarkan (meyakini) saja, tanpa melaksanakannya (inqiyad). Kalau iman hanyalah membenarkan (tashdiq) saja, tentu iblis, Fir’aun dan kaumnya, kaum sholeh, dan orang Yahudi yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (mereka meyakini hal ini sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka), tentu mereka semua akan disebut orang yang beriman (mu’min-mushoddiq).” Al Hasan mengatakan, “Iman bukanlah hanya dengan angan-angan (tanpa ada amalan). Namun iman adalah sesuatu yang menancap dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan.” (Lihat Ash Sholah, 35-36) Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga kita dapat mengingatkan kerabat, saudara dan sahabat kita mengenai bahaya meninggalkan shalat lima waktu. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Di antara keutamaan dan keberkahannya, bahwa pintu-pintu Surga dibuka pada dua hari tersebut, yaitu Senin dan Kamis. Pada saat inilah orang-orang Mukmin diampuni, kecuali dua orang Mukmin yang sedang bermusuhan. Dalil yang menguatkan hal ini adalah hadits yang termaktub dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.” “Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. [1] Lalu dikatakan, ‘Tundalah [2] pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengam-punan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” [3] Keutamaan dan keberkahan berikutnya, bahwa amal-amal manusia diperiksa di hadapan Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa pada kedua hari ini. Sebagaimana yang terdapat dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ اْلاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ.” “Amal-amal manusia diperiksa di hadapan Allah dalam setiap pekan (Jumu’ah) dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang beriman terampuni dosanya, kecuali seorang hamba yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan…” [Al-Hadits] [4] Karena itu, selayaknya bagi seorang Muslim untuk menjauhkan diri dari memusuhi saudaranya sesama Muslim, atau memutuskan hubungan dengannya, ataupun tidak memperdulikannya dan sifat-sifat tercela lainnya, sehingga kebaikan yang besar dari Allah Ta’ala ini tidak luput darinya. 2. Keutamaan hari Senin dan Kamis yang lainnya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat antusias berpuasa pada kedua hari ini. Sebagaimana yang terdapat dalam sebagian kitab hadits dari ‘Aisyah Rahiyallahu anhuma, ia mengatakan, “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.” ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis ”.[5] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan alasan puasanya pada kedua hari ini dengan sabdanya, “تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.” “Amal-amal manusia diperiksa pada setip hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” [HR. At-Tirmidzi dan lainnya] [6] Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Qatadah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari Senin, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ.” “Hari tersebut merupakan hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkannya al-Qur-an kepadaku pada hari tersebut.” [7] Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Dan tidak ada kontradiksi antara dua alasan tersebut.” [8] Berdasarkan argumentasi dari hadits-hadits ini, maka disunnahkan bagi seorang Muslim untuk berpuasa pada dua hari ini, sebagai puasa tathawwu’ (sunnah). 3. Keutamaan lain yang dimiliki hari Kamis, bahwa kebanyakan perjalanan (safar) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi pada hari Kamis ini. Beliau menyukai keluar untuk bepergian pada hari Kamis. Sebagaimana tercantum dalam Shahih al-Bukhari bahwa Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu mengatakan: “لَقَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ إِذَا خَرَجَ فِي سَفَرٍ إِلاَّ يَوْمَ الْخَمِيْسِ.” “Sangat jarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar (untuk melakukan perjalanan) kecuali pada hari Kamis.” Dalam riwayat lain yang juga dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu: “أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ فِي غَزْوَةِ تَبُوْكَ وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ.” “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari Kamis di peperangan Tabuk, dan (memang) beliau suka keluar (untuk melakukan perjalanan) pada hari Kamis.” [9] SHOLAT FARDHU Pengertian Shalat Wajib/Fardhu, Hukum, Rukun, Syarat Sah, Tujuan Dan Kondisi Batal Sholat A. Definisi & Pengertian Sholat Fardhu / Wajib Lima Waktu Menurut bahasa shalat artinya adalah berdoa, sedangkan menurut istilah shalat adalah suatu perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai dengan persyaratkan yang ada. B. Hukum, Tujuan dan Syarat Solat Wajib Fardhu ‘Ain Hukum sholat fardhu lima kali sehari adalah wajib bagi semua orang yang telah dewasa atau akil baligh serta normal tidak gila. Tujuan shalat adalah untuk mencegah perbuatan keji dan munkar. Untuk melakukan shalat ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dulu, yaitu : 1. Beragama Islam 2. Memiliki akal yang waras alias tidak gila atau autis 3. Berusia cukup dewasa 4. Telah sampai dakwah islam kepadanya 5. Bersih dan suci dari najis, haid, nifas, dan lain sebagainya 6. Sadar atau tidak sedang tidur Syarat sah pelaksanaan sholat adalah sebagai berikut ini : 1. Masuk waktu sholat 2. Menghadap ke kiblat 3. Suci dari najis baik hadas kecil maupun besar 4. Menutup aurat C. Rukun Shalat Dalam sholat ada rukun-rukun yang harus kita jalankan, yakni : 1. Niat 2. Posisis berdiri bagi yang mampu 3. Takbiratul ihram 4. Membaca surat al-fatihah 5. Ruku / 6. I’tidal 7. Sujud 8. Duduk di antara dua sujud 9. Sujud kedua 10. Tasyahud 11. Membaca salawat Nabi Muhammad SAW 12. Salam ke kanan lalu ke kiri 13.tumakninah D. Yang Membatalkan Aktivitas Sholat Kita Dalam melaksanakan ibadah salat, sebaiknya kita memperhatikan hal-hal yang mampu membatalkan shalat kita, contohnya seperti : 1. Menjadi hadas / najis baik pada tubuh, pakaian maupun lokasi 2. Berkata-kata kotor 3. Melakukan banyak gerakan di luar sholat bukan darurat 4. Gerakan sholat tidak sesuai rukun shalat dan gerakan yang tidak tuma’ninah. Waktu Shalat Fardhu Waktu sholat Shalat Lima Waktu adalah shalat fardhu (shalat wajib) yang dilaksanakan lima kali sehari. Hukum shalat ini adalah Fardhu ‘Ain, yakni wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang telah menginjak usia dewasa (pubertas), kecuali berhalangan karena sebab tertentu. Shalat Lima Waktu merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Allah menurunkan perintah sholat ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. “Sesungguhnya solat itu diwajibkan atas orang-orang yang beriman menurut waktu-waktu yang tertentu” ( Q.S. An-Nisa’ :103 ) “Dirikanlah solat ketika gelincir matahari hingga waktu gelap malam dan dirikanlah solat subuh sesungguhnya solat subuh itu adalah disaksikan (keistimewaannya)”. ( Q.S. Al-Isra’ : 78 ) Dengan berkembangnya peradaban manusia, berbagai kemudahan-kemudahan diciptakan untuk membuat manusia lebih praktis dalam segala hal termasuk dalam beribadah khususnya shalt fardu. Saat ini kita mengetahui banyak sekali diterbitkan jadwal waktu shalat dari berbagai instansi maupun organisasi antara lain; Departemen Agama, PP Muhammadiyah, PP Persis, PP Nahdatul Ulama (NU) dsb. Namun kesemuanya tidak dapat dilepaskan dari kaidah yang sebenarnya digunakan untuk menentukan waktu shalat yaitu “Pergerakan Matahari ” dilihat dari bumi. Sebelum manusia menemukan hisab/perhitungan falak/astronomi, pada zaman Rasulullah waktu shalat ditentukan berdasarkan observasi terhadap gejala alam dengan melihat langsung matahari. lalu berkembang dengan dibuatnya jam suria serta jam istiwa atau jam matahari dengan kaidah bayangan matahari. Dari sudut fiqih waktu shalat fardhu seperti dinyatakan di dalam kitab-kitab fiqih adalah sebagi berikut : • Shubuh, terdiri dari 2 raka’at Waktu Subuh Waktunya bermula dari terbit fajar sidiq sehingga terbit matahari (syuruk). Fajar sidiq ialah cahaya putih yang melintang mengikut garis lintang ufuk di sebelah Timur. Menjelang pagi hari, fajar ditandai dengan adanya cahaya yang menjulang tinggi (vertikal) di horizon Timur yang disebut “fajar kidzib”. Lalu kemudian menyebar di cakrawala (secara horizontal), dan ini dinamakan “fajar shiddiq”. Secara astronomis Subuh dimulai saat kedudukan matahari sebesar s° di bawah horizon Timur sampai sebelum piringan atas matahari menyentuh horizon yang terlihat (ufuk Mar’i). Di Indonesia khususnya Depag menganut kriteria sudut S sebesar 20° di bawah horison Timur. • Bagi pemula : Waktu Shubuh diawali dari munculnya fajar shaddiq, yakni cahaya putih yang melintang di ufuk timur. Waktu shubuh berakhir ketika terbitnya matahari. • Zhuhur, terdiri dari 4 raka’at .Waktu Zuhur Disebut juga waktu istiwa’ (zawaal) terjadi ketika matahari berada di titik tertinggi. Istiwa’ juga dikenal dengan sebutan “tengah hari” (midday/noon). Pada saat istiwa’, mengerjakan ibadah shalat (baik wajib maupun sunnah) adalah haram. Waktu zhuhur tiba sesaat setelah istiwa’, yakni ketika matahari telah condong ke arah barat. Waktu “tengah hari” dapat dilihat pada almanak astronomi atau dihitung dengan menggunakan algoritma tertentu. Secara astronomis, waktu Zhuhur dimulai ketika tepi “piringan” matahari telah keluar dari garis zenith, yakni garis yang menghubungkan antara pengamat dengan pusat letak matahari ketika berada di titik tertinggi (istiwa’). Secara teoretis, antara istiwa’ dengan masuknya zhuhur membutuhkan waktu 2,5 menit, dan untuk faktor keamanan, biasanya pada jadwal shalat, waktu zhuhur adalah 5 menit setelah istiwa’ (sudut z°). • Bagi pemula : Waktu Zhuhur diawali jika matahari telah tergelincir (condong) ke arah barat, dan berakhir ketika masuk waktu Ashar. • Khusus pada hari Jum’at, Muslim laki-laki wajib melaksanakan Shalat Jum’at di masjid secara berjamaah (bersama-sama) sebagai pengganti Shalat Zhuhur. Shalat Jum’at tidak wajib dilakukan oleh perempuan, atau bagi mereka yang sedang dalam perjalanan (musafir). • Ashar, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Ashar Menurut mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hambali, waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Sementara madzab Imam Hanafi mendefinisikan waktu Ashar jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri. Waktu Ashar dapat dihitung dengan algoritma tertentu yang menggunakan trigonometri tiga dimensi. Secara astronomis ketinggian matahari saat awal waktu ashar dapat bervariasi tergantung posisi gerak tahunan matahari/gerak musim. Di Indonesia khususnya Depag menganut kriteria waktu Ashar adalah saat panjang bayangan = panjang benda + panjang bayangan saat istiwa. • Bagi pemula : Waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Khusus untuk madzab Imam Hanafi, waktu Ahsar dimulai jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri. Waktu Ashar berakhir dengan terbenamnya matahari. • Maghrib, terdiri dari 3 raka’at.Waktu Maghrib Waktunya bermula apabila matahari terbenam sampai hilangnya cahaya merah di langit Barat. Secara astronomis waktu maghrib dimulai saat seluruh piringan matahari masuk ke horizon yang terlihat (ufuk Mar’i) sampai kedudukan matahari sebesar m° di bawah horizon Barat. Di Indonesia khususnya Depag menganut kriteria sudut m sebesar 18° di bawah horison Timur. • Bagi pemula : Waktu Maghrib diawali dengan terbenamnya matahari, dan berakhir dengan masuknya waktu Isya’. • Isya’, terdiri dari 4 raka’at.Waktu ‘Isya Waktu Isya didefinisikan dengan ketika hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit Barat, hingga terbitnya fajar shaddiq di Langit Timur. Secara astronomis, waktu Isya merupakan kebalikan dari waktu Subuh. Secara astronomis Isya dimulai saat kedudukan matahari sebesar i° di bawah horizon Barat sampai sebelum posisi matahari sebesar 20° di bawah horizon Timur. • Bagi pemula : Waktu Isya’ diawali dengan hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit barat, dan berakhir hingga terbitnya fajar shaddiq keesokan harinya. Akibat pergerakan semu matahari 23,5° ke Utara dan 23,5° ke Selatan selama periode 1 tahun, waktu-waktu tersebut bergesar dari hari-kehari. Akibatnya saat waktu shalat juga mengalami perubahan. oleh sebab itulah jadwal waktu shalat disusun untuk kurun waktu selama 1 tahun dan dapat dipergunakan lagi pada tahun berikutnya. Selain itu posisi atau letak geografis serta ketinggian tempat juga mempengaruhi kondisi-kondisi tersebut di atas. Diagram Waktu Shalat berdasarkan posisi matahari Berdasarkan konsep waktu menggunakan posisi matahari secara astronomis para ahli kini berusaha membuat formulasi berdasarkan letak geografis dan ketinggian suatu tempat di permukaan bumi dalam bentuk sebuah program komputer yang dapat menggenerate sebuah tabulasi data secara akurat dalam sebuah “Jadwal Waktu Shalat”. Kini software waktu shalat terus dibuat dan dikembangkan diantaranya: Accurate Times, Athan Software, Prayer Times, Mawaqit, Shalat Time dsb. serta software produksi BHR Departemen Agama yang disebarluaskan secara nasional yaitu Winhisab. Program ini masih terlalu sederhana untuk kelas Nasional dan saya yakin BHR bisa membuat yang lebih baik lagi. Cara Shalat Fardhu Sebelum kita melakukan ibadah shalat, diwajibkan berwudhu terlebih dahulu Berdiri menghadap ke Kiblat lalu membaca niat shalat (cukup diucapkan dalam hati saja). sebagai contoh, kita berniat untuk shalat subuh : Ushalli fardhas shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (ma’muuman/imaaman) lillahi ta’aala Sesuaikan niat shalat untuk lainnya Bertakbirul ikhram dengan membaca “Allaahu Akbar” dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu atau telinga dan tatapan mata melihat ke tempat sujud. Letakkan tangan kanan diatas tangan kiri Membaca doa Istiftah ALLAAHU AKBARU KABIIRAA WAL HAMDU LILLAAHI KATSIIRAA WASUBHAANALLAAHI BUKRATAW WAASHIILAA. Allah Maha Besar, Maha Sempurna Kebesaran-Nya. Segala Puji Bagi Allah, Pujian Yang Sebanyak-Banyaknya. Dan Maha Suci Allah Sepanjang Pagi Dan Petang. INNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN. Kuhadapkan Wajahku Kepada Zat Yang Telah Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Penuh Ketulusan Dan Kepasrahan Dan Aku Bukanlah Termasuk Orang-Orang Yang Musyrik. INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN. Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta. LAA SYARIIKA LAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN. Tidak Ada Sekutu Bagi-Nya Dan Dengan Demikianlah Aku Diperintahkan Dan Aku Termasuk Orang-Orang Islam. atau membaca bacaan istiftah lainnya Sebelummembacasuratalfathkhah baca dahulu Ta’awwudz Selesai membaca do’a iftitah, lalu membaca “ta’awwudz”. Bacaan t’awwudz hukumnya sunnat. Lafazhnya yaitu: A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim (Aku berlinding kepada Allah dari kejahatan setan yang terkutuk) Kemudian Membaca surat Al Fatihah (bacalah basmallah dengan lirih) BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. AL HAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN. Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. ARRAHMAANIR RAHIIM. Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. MAALIKIYAUMIDDIIN. Penguasa Hari Pembalasan. IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IINU. Hanya Kepada-Mu lah Aku Menyembah Dan Hanya Kepada-Mu lah Aku Memohon Pertolongan. IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM. Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus. SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADHDHAALLIIN. AAMIIN. Yaitu Jalannya Orang-Orang Yang Telah Kau Berikan Nikmat, Bukan Jalannya Orang-Orang Yang Kau Murkai Dan Bukan Pula Jalannya Orang-Orang Yang Sesat. Dilanjutkan dengan membaca surat pendek atau membaca ayat-ayat yg ada di Al-Qur’an, dan dibaca pada raka’at pertama dan kedua saja. Contoh : surat Al Ma’un ara-aytalladzii yukadzdzibu biddiin Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? fadzaalikalladzii yadu”u lyatiim Itulah orang yang menghardik anak yatim, walaa yahudhdhu ‘alaa tha’aami lmiskiin dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. fawaylun lilmushalliin Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, alladziina hum ‘an shalaatihim saahuun (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, alladziina hum yuraauun orang-orang yang berbuat riya wayamna’uuna lmaa’uun dan enggan (menolong dengan) barang berguna Sebelum ruku, disunnahkan untuk ber-thuma’niinah (berdiam sejenak) terlebih dahulu. Takbir (Allaahu Akbar) dengan mengangkat tangan sejajar bahu atau telinga (gambar 04) dan dilanjutkan dengan Ruku (gambar 05) dengan posisi telapak tangan bertumpu pada dengkul seperti terlihat pada inset. Setelah thuma’niina pada saat ruku, lalu kita membaca doa ruku : Subhaana robbiyal adziimu : 3x , Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya. atau membaca doa ruku lainnya Bangkit dari ruku (I’tidal) dengan mengangkat kedua tangan sejajar bahu atau telinga sambil mengucapkan SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDA Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya )., setelah berdiri tegak, letakkan tangan disamping lalu kita ucapkan: RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU. Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya. atau bacaan I’tidal lainnya .. Dilanjutkan dengan sujud sambil bertakbir. Posisi sujud : Kedua telapak tangan dibuka, tidak mengepal dan diletakkan sejajar dengan bahu atau telingan, kedua sikut diangkat, dijauhkan dari lambung kiri dan kanan (kecuali ketika shlat berjama’ah, kedua sikut dirapatkan ke sisi lambung). Dan jari jemari tangan dirapatkan dan menghadap kiblat, dan posisi tumit kaki dirapatkan. Bersujudlah dengan thuma’niinah dan lakukanlah dengan menempelkan tujuh anggota badan: kening/dahi; hidung; kedua tangan; kedua lutut dan jari jemari kedua kaki kita pada saat sujud membaca doa : SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya. atau membaca doa sujud lainnya … Bangkit dari sujud sambil bertakbir lalu duduk Iftirasy (duduk diantara dua sujud), yaitu duduk dengan bertumpu pada telapak kaki kiri dan telapak kaki kanan ditegakkan, seperti pada gambar 10 b dan posisi tangan diletakkan diatas paha seperti yang terlihat pada gambar 10 a pada posisi ini bacalah doa : RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII. Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.atau bacaan lainnya … Lalu sujud lagi seperti gerakan pada gambar 09. Setelah sujud bangkitlah sambil bertakbir (duduk sejenak) dengan posisi tangan mengepal atau dengan membukanya seperti terlihat pada gambar dibawah ini (Pada saat kita sudah berdiri lagi, berarti kita sudah memasuki raka’at kedua) Pada raka’at kedua kita melakukan berdiri dengan bersedekat seperti pada gambar 03, lalu kita membaca Surat Al Fatihah, di lanjutkan dengan membaca surat pendek atau ayat-ayat Al Qur’an. Kemudian Ruku (gerakan no. 11), I’tidal (gerakan no. 12), Sujud (gerakan no. 13), Duduk Iftirasy (gerakan no. 14), Sujud (gerakan no. 13). Setelah sujud kedua pada raka’at kedua ini kita melanjutkan dengan gerakan Tasyahud Awal dengan posisi duduk seperti pada gambar 10 b. Namun dengan sedikit perbedaan, yaitu tangan kanan menggenggam jari tengah, manis dan kelingking, lalu jari telunjuk ditegakkan (boleh sambil jari telunjuk digerak-gerakkan). Pada saat ini, pandangan mata harus tertuju pada telunjuk. Pada Tasyahud awal kita membaca : ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH. Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah. ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi. ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN. Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh. ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH. Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah. ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD. Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !. Bila kita melakukan shalat dengan 2(dua) raka’at, maka kita teruskan dengan membaca Tasyahud Akhir. Namun bila kita melakukan shalat yang raka’atnya lebih dari 2, maka Tasyahud Akhir tidak dibaca. Melainkan dilanjutkan dengan berdiri (dengan mengucapkan takbir) dan teruskan raka’at ketiga dan seterusnya. Pada rakaa’at ketiga dan keempat, setelah kita membaca surat Al Fatihah, langsung dilanjutkan dengan ruku (tanpa membaca surat pendek) Adapun posisi duduk Tasyahud Akhir adalah duduk tawarruk yaitu posisi telapak kaki kanan di tegakkan, kaki kiri diletakkan dibawah kaki kanan dan pantat duduk di lantai. Pada posisi tasyahud akhir, kita membaca doa seperti pada kita duduk tasyahud awal, lalu diteruskan dengan membaca shalawat yang bacaannya : ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH. Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah. ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH. Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi. ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN. Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh. ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH. Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah. ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad. KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya. KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM. Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya. FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK. Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu. atau membaca doa lainnya Setelah itu kita menoleh ke kanan sambil mengucapkan salam “Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu”, Semoga keselamatan dan rahmat diberikan atas engkau dan menoleh ke kiri sambil mengucapkan salam. Keutamaan Shalat Fardhu, Faedah Rukun Shalat Serta Arti Daripada Tiap-Tiap Gerakan Shalat فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً ﴿ fa-idzaa qadhaytumu alshshalaata faudzkuruu allaaha qiyaaman waqu’uudan wa’alaa junuubikum fa-idzaa ithma/nantum fa-aqiimuu alshshalaata inna alshshalaata kaanat ‘alaa almu/miniina kitaaban mawquutaan Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. An – Nisa : 103 Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda : Barang siapa meninggalkan shalat dengan sengaja maka sesungguhnya dialah kafir yang nyata. (HR.Ahmad).beberapa di antara faedah atas arti daripada tiap-tiap gerakan shalat itu adalah sebagai berikut : 1. Niat : Melapangkan kubur 2. Berdiri : Tikar dalam kubur 3. Takbiratul ihram : penerangan dalam kubur 4. Membaca fatihah : pakaian yang indah dalam kubur 5. Rukuk : kenderaan di padang mahsyar 6. Iktidal : payung dipadang mahsyar 7. Sujud : air minum al-kautsar dlm kubur 8. Duduk antara dua sujud : menjawab pertanyaan nungkar dan nangkir. 9. Tahiyat awal : Dinding api neraka 10.Tahiyat akhir : dinding titian sirotol mustaqim. Sesungguhnya..faedah daripada mengerjakan Shalat Fardhu itu akan engkau dapati balasannya didunia, yang menjadikan tenteram hatimu, membaikkan akhlakmu untuk mencegah dari perbuatan yang keji lagi mungkar serta akan engkau dapati pula balasannya di alam kubur dan pada hari berbangkit kelak. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : Yang pertama-tama dipertanyakan terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi. (Hr.Annasa’i dan Attirmidzi) Dan itulah masa yang paling dekat antara seorang hamba kepada Tuhannya, dimana jiwa dan raganya taat, patuh lagi tunduk dengan sebenar-benar ketaatan atas perintah Rabb semesta alam. Sedang yang sedemikian itu, melapangkan hati bagi yang mengerjakannya, menerangi harinya yang tengah mendung dalam mengarungi harinya. Maka akhi lagi ukhti sekalian, marilah menyolatkan diri kita sendiri, jikalauh tiba masanya begi kita untuk berhenti mengerjakannya, maka sesungguhnya tiadalah kita sanggup lagi mengerjakannya melainkan orang lainlah yang menyolatkan kita. Paling dekat seorang hamba kepada Robbnya ialah ketika ia bersujud maka perbanyaklah Do’a(saat bersujud). (HR.Muslim) Dari abu abdullah (Abu abdurahman tsauban) sahaya rasulullah saw ia berkata saya mendengar rasullullah saw bersabda; hendaklah kamu memperbanyak sujud, sesungguhnya jika sujud satu saja sujud karena Alloh niscaya Alloh mengangkatmu satu derajat dan Alloh menghapus satu kesalahanmu. (Hr muslim) Do’a Sholat Fardhu 5 Waktu dan Niatnya Lengkap Beserta Artinya Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatu. Kali ini saya akan membagikan Doa-Doa Sholat Fardhu Lengkap Beserta Artinya namun dengan berbahasa Latin (Indonesia). Buat kalian para muslim yang baru belajar tentang doa-doa sholat, kalian bisa membacanya di blog ini. Dengan demikian kita bisa memperdalam shalat fardhu agar bisa saling berhubungan dengan sang Khalik (Allah SWT.). Semoga Blog saya ini bisa membantu anda untuk mendapatkan Ridho dari Allah SWT. dan mendapatkan pahala yang sebesar-besarnya. Amin. Jika ada kesalahan dari blog ini mohon di maafkan, karena saya hanya bisa melakukan apa yang saya bisa lakukan saja. Dan jika ada kata-kata yang kurang pada blog ini, silahkan di tambahkan di komentar. Sekali lagi saya meminta maaf sebesar-besarnya kalau ada kesalahan pada blog ini. Terima Kasih Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatu. Sebelum kita membaca doa-doa sholat Fardhu, sebaiknya kita dahulukan dulu niat-niat sholat Fardhu. A. Niat Sholat Shubuh/Subuh (2 Roka’at) Usholli fardho subhi roka’ataini mustaqbilal adaa-an lillaahi ta’aalaa (imaaman/ma’muuman). Artinya: Saya Berniat Sholat Subuh 2 Rakaat Menghadap Qiblat Karena Allah Swt. (Sebagai Imam/Sebagai makmum) B. Niat Sholat Dhuhur/Zuhur/Lohor (4 Roka’at) Ushollii fardlodh dhuhri arba’a roka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi ta’aalaa (imaaman/ma’muuman). Artinya : Saya Berniat sholat fardhu dhuhur empat raka’at menghadap qiblat karena Allah.(sebagai imam/sebagai makmum) C. Niat Sholat Ashar/Asar (4 Roka’at) Ushollii fardlol ‘ashri arba’a roka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi ta’aalaa (imaaman/ma’muuman). Artinya : Saya Berniat sholat fardhu ashar empat raka’at menghadap qiblat karena Allah.(sebagai imam/sebagai makmum) D. Niat Sholat Maghrib/Magrib (3 Roka’at) Ushollii fardlol maghribi tsalaatsa roka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi ta’aalaa (imaaman/ma’muuman). Artinya :Saya Berniat sholat fardhu maghrib tiga raka’at menghadap qiblat karena Allah.(sebagai imam/sebagai makmum) E. Niat Sholat Isya/Isa (4 Roka’at) Ushollii fardho ‘isyaa-i arba’a roka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi ta’aalaa (imaaman/ma’muuman). Artinya:Saya Berniat sholat fardhu isya empat raka’at menghadap qiblat karena Allah.(sebagai imam/sebagai makmum) F. Niat Sholat Jum’at (2 Roka’at) Ushollii Fardho Jumu’ati Raka’ataini Mustaqbilal Qiblati A’daa’an Ma’muuman Lillahi Ta’ala. Artinya: Saya Berniat Sholat Fardhu Jum’at menghadap Qiblat sebagai makmum karena Allah swt. Ushollii Fardho Jumu’ati Raka’ataini Mustaqbilal Qiblati A’daa’an Imaaman Lillahi Ta’ala. Artinya: Saya Berniat Sholat Fardhu Jum’at Menghadap Qiblat Sebagai Imam Karena Allah swt. DOA IFTITAH Bagian 1 ALLAAHU AKBARU KABIIRAA WAL HAMDU LILLAAHI KATSIIRAA WASUBHAANALLAAHI BUKRATAW WAASHIILAA. Artinya: Allah Maha Besar, Maha Sempurna Kebesaran-Nya. Segala Puji Bagi Allah, Pujian Yang Sebanyak-Banyaknya. Dan Maha Suci Allah Sepanjang Pagi Dan Petang. INNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN. Artinya: Kuhadapkan Wajahku Kepada Zat Yang Telah Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Penuh Ketulusan Dan Kepasrahan Dan Aku Bukanlah Termasuk Orang-Orang Yang Musyrik. INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN. Artinya: Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta. LAA SYARIIKA LAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN. Artinya: Tidak Ada Sekutu Bagi-Nya Dan Dengan Demikianlah Aku Diperintahkan Dan Aku Termasuk Orang-Orang Islam. DOA IFTITAH Bagian 2 ALLAHUMMA BA’ID BAINI WA BAINA KHATOYAAYA KAMAA BA’ADTAL BAINAL MASYRIQI WALMAGRIBI. Artinya: Ya Allah, Jauhkanlah Antara Saya Dengan Kejelekan-Kejelekan Saya Sebagaimana Engkau Menjauhkan Antara Timur Dan Barat. ALLAHUMMA NAQQINI MINAL KHATOYAAYA KAMAA YUNAQQOTS SAUBUL ABYADLU MINADDANAS. Artinya: Ya Allah, Jauhkanlah Diriku Dari Kejelekan-Kejelekanku Sebagaimana Baju Putih Dibersihkan Dari Kotoran. ALLOHUMMAGHSIL KHOTHOOYAAYA BILMAA-I WATS-TSALJI WALBARODI. Artinya: Ya Allah, Basuhlah Atau Cucilah kejelekan-Kejelekan Saya Dengan Air,Salju Dan Embun. DOA IFTITAH Bagian 3 WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHOROS SAMAAWAATI WAL ARDLO HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN. Artinya:Kuhadapkan Jiwa Ragaku Pada Dzat Yang Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Mengakui Kebenaran Serta Berserah Diri, Dan Tidaklah Aku Termasuk Golongan Orang-Orang Yang Musyrik. INNA SHOLAATII WANUSUKII WA MAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN. Artinya: Sesungguhnya Sholatku, Ibadahku, Hidupku, Matiku Hanya Untuk Allah Tuhan Semesta Alam. LAASYARIIKALAHU WABIDZAA-LIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN. Artinya:Tiada Sekutu BagiNya Karena Dengan Itu Aku Diperintah. Dan Ketahuilah Sesungguhnya Aku Termasuk Orang-Orang Muslim. AL-FATIHAH BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM. Artinya: Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. AL HAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN. Artinya: Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. ARRAHMAANIR RAHIIM. Artinya: Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. MAALIKIYAUMIDDIIN. Artinya: Penguasa Hari Pembalasan. IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IINU. Artinya: Hanya Kepada-Mu lah Aku Menyembah Dan Hanya Kepada-Mu lah Aku Memohon Pertolongan. IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM. Artinya: Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus. SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADHDHAALLIIN. AAMIIN. Artinya: Yaitu Jalannya Orang-Orang Yang Telah Kau Berikan Nikmat, Bukan Jalannya Orang-Orang Yang Kau Murkai Dan Bukan Pula Jalannya Orang-Orang Yang Sesat. R U K U’ SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. 3 x Artinya: Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya. I’TIDAL SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH. Artinya: Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ). RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU. Artinya: Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya. SUJUD SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. 3 x Artinya: Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya. DUDUK DIANTARA DUA SUJUD RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII. Artinya:Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku. TASYAHUD AWAL ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH. Artinya: Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah. ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH. Artinya: Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi. ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN. Artinya:Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh. ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH. Artinya: Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah. ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD. Artinya: Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !. TASYAHUD AKHIR ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH. Artinya: Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah. ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH. Artinya: Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi. ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN. Artinya: Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh. ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH. Artinya: Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah. ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal )WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. Artinya: Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad. KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM. Artinya: Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya. WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. Artinya: Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya. KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM. Artinya: Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya. FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK. Artinya: Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu. Jamaah Tabligh Jamaah Tabligh (“Kelompok Penyampai”)[1] (bahasa Urdu: تبلیغی جماعت, bahasa Arab: جماعة التبليغ, juga disebut Tabliq)[2] adalah gerakan transnasional dakwah Islam yang didirikan tahun 1926 oleh Muhammad Ilyas di India.[3] Kelompok Penyampai ini bergerak mulai dari kalangan bawah, kemudian merangkul seluruh masyarakat muslim tanpa memandang tingkatan sosial dan ekonominya dalam mendekatkan diri kepada ajaran Islam sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Saw Sejarah Tabligh jama’ah tabligh adalah jama’ah yang mengembalikan ajaran Islam berdasarkan Al’quran dan hadits. Nama Jama’ah Tabligh merupakan sebutan bagi mereka yang sering menyampaikan, sebenarnya usaha ini tidak mempunyai nama tetapi cukup Islam saja tidak ada yang lain. Bahkan Muhammad Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan aku beri nama “gerakan iman”. Ilham untuk mengabdikan hidupnya total hanya untuk Islam terjadi ketika Maulana Ilyas melangsungkan Ibadah Haji kedua-nya di Hijaz pada tahun1926. Maulana Ilyas menyerukan slogannya, ‘Aye Musalmano! Musalman bano’ (dalam bahasa Urdu), yang artinya ‘Wahai umat muslim! Jadilah muslim yang kaffah (menunaikan semua rukun dan syari’ah seperti yang dicontohkan Rasulullah)’. Tabligh resminya bukan merupakan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim yang menjalankan agama secara sempurna, dan hanya satu-satunya gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mahdzab atau aliran pengikutnya. Dalam waktu kurang dari dua dekade, Jamaah Tabligh berhasil berjalan di Asia Selatan. Dengan dipimpin oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Ilyas sebagai amir/pimpinan yang kedua, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya pada tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai Asia Barat Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara. Sekali terbentuk dalam suatu negara, Jamaah Tabligh mulai membaur dengan masyarakat lokal. Meskipun negara barat pertama yang berhasil dijangkau Tabligh adalah Amerika Serikat, tapi fokus utama mereka adalah di Britania Raya, mengacu kepada populasi padat orang Asia Selatan disana yang tiba pada tahun 1960-an dan 1970-an. Jamaah ini tidak menerima donasi dana dari manapun untuk menjalankan aktivitasnya. Biaya operasional Tabligh dibiayai sendiri oleh pengikutnya. Tahun 1978, Liga Muslim Dunia mensubsidi pembangunan Masjid Tabligh di Dewsbury, Inggris, yang kemudian menjadi markas besar Jama’ah Tabligh di Eropa. Pimpinan mereka disebut Amir atau Zamidaar atau Zumindaar. Pengikut dari kalangan selebritis Banyak terdapat pengikut Tabligh dari kalangan orang-orang penting dan Ternama. Di Kalangan politisi, ada mantan Presiden Pakistan Rafiq Tarar, Menteri kepala Sindh Dr. Arbab Ghulam Rahim, mantan Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif, dan mantan Jendral Pakistan Javed Nasir secara aktif mengikuti kegiatan-kegiatan Tabligh. Di kalangan olahragawan, ada Shahid Afridi, Saqlain Mushtaq, Mushtaq Ahmed, Mohammad Yousuf, Inzamam-ul-Haq dan Saeed Anwar. Penyanyi terkenal seperti Junaid Jamshed dan Abrar-ul-Haq juga aktif dalam gerakan dakwah revolusi Islam ini. Politisi Ijaz-ul-Haq (anak dari Jendral Zia-ul-Haq) have juga terlihat beberapa kali bersama Jamaah Tabligh. Di Indonesia, Tabligh juga telah menyentuh hati Sakti, personel band Sheila on 7. Pada tahun 2006, dia telah keluar selama empat bulan ke Markas International Tabligh di Nizzamudin, New Delhi, India. Dia telah berhenti bermusik, dan memilih menjalankan amalan amalan maqami dan amalan intiqali dengan sangat intensif. dan setelah itu ada juga Vokalis dari Nineball band,Ray.selain itu pula ada lukman hakim-gitaris Peterpan.dan banyak lagi yang bisa jadi panutan.termasuknya pedangdut Saiful jamil. sedangkan di Malaysia banyak dari kalangan artis maupun pensiunan angkatan bersenjata, pelantun tembang ISABELA sekarang juga telah aktif mengikuti da’wah ini.dan di indonesia juga di ikuti oleh mantan penyanyi rock Irvan Toro Sembiring, yang sekarang sedang giat menggarap da’wah pada kalangan anak-anak PUNK Jakarta Kemudian setiap negara juga mempunyai markas pusat nasional, dari markas pusat dibagi markas-markas regional/daerah. Kemudian dibagi lagi menjadi ratusan markas kecil yang disebut Halaqah berbasiskan di mesjid-mesjid dan mushalla-mushalla. Kegiatan di Halaqah dapat dibagi atas kegiatan harian, minguan dan bulanan. Kegiatan ini bertujuan untuk meramaikan mesjid dan mengajak kembali ummat ini agar mencintai mesjid. Kegiatan harian antara lain adalah musyawarah harian, taklim harian, zikir pagi petang dan amalan silaturrahmi. Kegiatan mingguan dapat berupa joula atau mengunjungi sesama muslim dan berbincang tentang pentingnya iman dan amal, pentingnya berusaha atas iman dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Kegiatan bulanan dapat berupa khuruj selama tiga hari. Khuruj adalah meluangkan waktu untuk secara total berdakwah memeprbaiki diri sendiri dan mengajak orang lain agar berusaha atas iman, yang b
  5. ABU YAMIN MAKKI mengatakan:

    SETELAH MEMBACA ARTIKEL DI ATAS JUSTRU MALAH BINGUNG, SAMA SEKALI TIDAK MEMBERIKAN SATU PEDOMAN, MANAKALA SESEORANG HARUS MENGANALISA DARI SEKIAN FIRQOH SESUAI DENGAN KEMAMPUAN, MAKA DAPAT KITA BAYANGKAN SEPERTI APA JADINYA SESEORANG DALAM MENJALANKAN AGAMA DENGAN BENAR, SEDANG KEMAMPUAN SESEORANG ANTA SATU DAN YANG LAIN JELAS BERBEDA. MOHON AGAK SPESIFIK DALAM MEMBERIKAN PERTIMBANGAN, JANGAN JUSTRU AKAN MENAMBAH FIRQOH YANG BARU DAN MENYESATKAN,

  6. Ayahnya Ranggasetya mengatakan:

    ” Yang pernah aku pelajari, Rasulullah saw. memperbolehkan para shahabat untuk berbeda-beda dalam berbagai masalah cabang.”

    Poin yang ini dalilnya apa?

  7. surdai mengatakan:

    kenyataannya ummat islam berfirqoh2 dan bermazhab2,semua mengaku benar dan celakanya yang mengaku benar dianggap sesat oleh firqoh lainnya yang juga mengaku paling benar, jadi ya kita ikut saja firqoh yang kita percayai itu benar, walau belum tentu benar, Allah tentu maha adil dan tidak akan menzolimi mahluknya hanya karena salah pilih bukan?

  8. andi mengatakan:

    kalau saya suka sholat berjamaah di rumah dengan keluarga saya krn sy tidak mau masuk sorga sendiri melainkan dengan keluarga saya. beda dgn mrk2 yg sok pede mau masuk sorga sendiri sehingga dia sendiri yg sholat berjamaah di masjid sementara istrinya di suruh sholat sendiri dirumah, emang klw sholat di rumah tidak sah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s