Aneh! Di Arab Saudi, fatwa ulama harus seizin Raja

Raja Arab Saudi Abdullah telah mengeluarkan ketetapan bahwa hanya anggota Majelis Ulama Senior dan ulama-ulama lain yang disetujui oleh mereka yang berhak mengeluarkan fatwa publik. Raja Abdullah memperingatkan bahwa siapapun yang melanggar perintahnya akan dihukum. Namun, keputusan itu tidak membatasi wewenang para ulama Saudi untuk mengeluarkan fatwa pribadi bagi orang-orang yang meminta nasihat mengenai masalah-masalah pribadi.

Aneh! Apakah para ulama senior merasa khawatir kalau-kalau tersaingi oleh fatwa ulama junior? Apakah suara senior pasti lebih benar daripada yang junior? Ataukah malah Raja Arab Saudi hendak mengukuhkan suatu “lembaga kepausan” (Majelis Ulama Senior) supaya suara Ulama Senior dipandang sama dengan suara Tuhan?

Keputusan Raja Abdullah itu menguatkan pandangan Abou El Fadl bahwa ada kolusi antara keluarga kerajaan Saudi dan aliran Salafi-Wahhabi tertentu:

Di wilayah-wilayah yang jatuh ke dalam kekuasaan mereka, kaum Wahhabi memperkenalkan praktik yang secara luar biasa memperluas kekuasaan intrusif negara kepada para pelaksana hukum yang mendefinisikan aturan dan tata perilaku secara sempit, yang menurut mereka dipandang sebagai satu-satunya Islam yang benar. … Kekuasaan intrusif yang baru [ini] sungguh-sungguh membatasi kebebasan individu dan memaksa orang yang menentang untuk menaati tata perilaku yang sangat spesifik–semuanya dilakukan dengan alasan untuk memperkuat hukum Tuhan. (Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, hlm. 85)

Kalau begitu, bagaimana kita bisa percaya bahwa fatwa ulama pilihan Raja itu objektif dan tidak subjektif?

Untunglah kita tinggal di Indonesia. Di sini, siapa pun boleh berfatwa tanpa seizin Majelis Ulama atau pun Pemerintah. (Adapun apakah fatwa itu dipatuhi oleh umat ataukah ditolak, itu soal lain.)

Comments
4 Responses to “Aneh! Di Arab Saudi, fatwa ulama harus seizin Raja”
  1. ar rayyan mengatakan:

    assalamualaykum,afwan menurut ana,karena berfatwa harus dgn ilmu yg haq
    begini,
    berbicara atas nama Allah ta’ala tanpa dilandasi ilmu(kenapa?karena berfatwa dalam agama islam berarti mengeluarkan statement/fatwa tentang apa2 yg telah diturunkan Allah ta’la melalui lisan nabi nya yg mulia)adalah dosa yg sangat besar.Perhatikan Allah Ta’la menyebut tindakan berbicara nama Allah Ta’la tanpa dilandasi ilmu bersamaan dgn perbuatan Syirik,sesat,dosa dan perbuatan keji.

    firman Allah Ta’la:

    “Dan mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”(QS.Al A’raf:33)

    Ibnu Katsir rahimahullah berkata: MAksudnya adalah mengada ada kan dan berdusta.Seperti mengklaim bahwa ALLAH ta’ala mempunyai anak dan SEBAGAIMANA YANG TIDAK ANDA KETAHUI ILMU NYA.(tafsir Alquran Al-adzim,3/409)

    Penetapan halal dan haram adalah hak prerogatif Allah Ta’la.Maka yg halal adalah yg di halalkan oleh Allah Ta’ala,dan yg di haramkan adalah yg diharamkan-Nya.

    Allah Ta’la berfirman:

    “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”(QS.An Nahl:116-117).

    Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?” (QS Yunus:59-60)

    Salah satu kejahatan terbesar ialah memberanikan diri utk menetapkan halal dan haram di dalam agama Allah tanpa dilandasi ilmu dan pengetahuan yg memadai.Perbuatan ini adalah perbuatan yg tidak etis dan kurang ajar kpd Allah Tabaroka Wata’la.karena orang itu maju ke hadapan Allah Ta’la lalu berbicara ttg agama dan syariat-Nya tanpa dilandasi ILMU.

    Rasulullah Salallahu alaihi wassalam yg notabene orang yg paling banyak ilmu nya di dalam umat ini dan merupakan pemimpin umat ini ketika ditanya ttg sesuatu yg blm diterangkan di dalam wahyu yg turun dari Allah Ta’la,beliau menunggu sampai ada wahyu yg turun kpd nya.(ayat2 yg awalnya berbunyi YAS ALUU NA/mereka bertanya kpd mu).

    Ibnu Mas’ud Radhiallahuanhu berkata Sesungguhnya orang yg memberikan fatwa kpd masyarakat dlm tiap masalah yg mereka tanyakan kepadanya adl orang yg benar2 gila(diriwayatkan oleh Ad Darimi,176,dan Ibn Abdil Barr dlm Jami’ Bayanil Ilmi,2206).

    Tentang keengganan berfatwa dan kecaman thd orang yg tergesa2melakukan nya,Abdurrahman bin Abi Laila rahimahullah berkata:”Aku pernah bertemu dgn 120 sahabat Nabi Salallahu Alaihi wassalam.ternyata tiap ahli hadits diantra mereka berharap agar saudaranya bisa mewakilinya dlm menyampaikan hadits.dan tiap mufti(ahli fatwa) berharap agar saudaranya bisa mewakilinya dlm memberikan fatwa(diriwayatkan oleh Ad Darimi,176,dan Ibn Abdil Barr dlm Jami’ Bayanil Ilmi,2199).

    Imam Ahmad rahimahullah sering ditanya lalu berhenti menjawab,atau mengatakan : “aku tidak tahu”atau semacam itu(Diriwayatkan oleh Al-Khotib dalam Al-Faqih Wal Mutafaqqih,1126).

    maka,terlalu berani berfatwa adalah terlalu berani thd Neraka,ceroboh dalam berfatwaberarti menceburkan diri dalam neraka.Waiya dzu billah.

    hendaknya tahu bahwa dgn berbicara syari’ah(halal haram)itu berarti telah membubuhkan tanda tangan atas nama Allah Ta”la.

    Al-khotib Al-Baghadi meriwayatkan dari Hammad bin Zaid,ia pernah mendengar seruan dari seseorang di Madinah yg menyatakan:”tidak boleh ada yg berfatwa di Masjid Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam kecuali Malik/imam malik(Tarikh Baghdad,10/436)

    KArena itu,tugas ini harus dilaksanakan oleh orang2 yg AHLI,bukan orang2 yg sok pandai dan harus ditangani oleh orang yg asli dan bukan pendatang.Agar untuk memelihara agama umat,menyatukan kata mereka,dan memberikan panduan yg jelas bagi arah dan perjalanan mereka.Agar semuanya terbangun berdasarkan AL QURAN dan Sunnah.

    jadi menurut hemat ana,raja saudi itu m\berlaku demikian,agar tidak ada orang yg berfatwa sembarangan tanpa ilmu yg haq,bukankah kalau berfatwa tanpa ilmu yg memadai dan syar’i,akan membinasakan orang banyak(umat) yg menurut saja dgn fatwa yg mungkun saja bisa salah dan bisa benar itu.

    (Raja Arab Saudi Abdullah telah mengeluarkan ketetapan bahwa hanya anggota Majelis Ulama Senior dan ulama-ulama lain yang disetujui oleh mereka yang berhak mengeluarkan fatwa publik) mungkin memang karena sifat Wara’ raja saudi,yg takut dalam fatwa yg menyimpang dari kaidah islam yg haq,sehingga bisa menjerumuskan orang banyak.

    dan kalimat [Untunglah kita tinggal di Indonesia. Di sini, siapa pun boleh berfatwa tanpa seizin Majelis Ulama atau pun Pemerintah. (Adapun apakah fatwa itu dipatuhi oleh umat ataukah ditolak, itu soal lain.) ] mungkin bisa ditinjau kembali wahai saudara ku seiman,dari sini bisa kita simpulkan kenapa raja saudi memberi instruksi hanya ulama senior yg berhak memberi fatwa,berdasar tulisan saya diatas.Barakallahu fiikum saudaraku.

    -dari berbagai sumber-

  2. Adi bin Adnan mengatakan:

    Assalamualaikum.

    Jika tujuannya hanya untuk mencegah orang tak berilmu mengeluarkan fatwa, mengapa pemerintah Arab Saudi mem-blok situs IslamQA sehingga tidak bisa dibuka di Arab Saudi ?.

    Mengingat Syaikh Saleh Al-Munajid yang mengasuh situs ini adalah seorang Alim yang berpengetahuan luas dan fatwa-fatwanya sering menjadi rujukan kaum Salafi di Timur Tengah dan Eropa.

  3. abu mengatakan:

    benar apa yg di katakan ar rayan.,nggak kyk indonesia ulamax terlalu banyak yg pinter semua berfatwa seenak perutx sendiri jadix nggak karuan…sesuai hawa nafsux sendri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s