Kemunculan “Islam moderat” sebagai salah satu alternatif “versi” Islam kini diminati banyak kalangan. Dialog-dialog keagamaan yang mengarah pada tatanan yang damai, toleran, dan berkeadilan merupakan indikasi bahwa model berislam secara moderat sebagai pilihan. Moderatisme juga dinilai paling kondusif di masa kini.
Konsep “Islam moderat” merujuk pada makna ummatan wasathan (QS al-Baqarah [2]: 143). Kata wasath dalam ayat tersebut berarti khiyâr (terbaik, paling sempurna) dan ‘âdil (adil). Dengan demikian, makna ungkapan ummatan wasathan berarti umat terbaik dan adil dalam koridor syariah. Inilah yang membuat Islam pantas menjadi alternatif dan solusi.
Dalam praktiknya, Islam moderat selalu mencari jalan tengah dalam menyelesaikan persoalan. “Perbedaan” dalam bentuk apa pun dengan sesama umat beragama diselesaikan lewat kompromi yang menjunjung tinggi toleransi dan keadilan sehingga dapat diterima oleh kedua belah pihak. Melalui cara itu pula, masalah yang dihadapi dapat dipecahkan tanpa jalan kekerasan.
Moderasi Islam
Moderat (moderate), yang berasal dari bahasa Latin ‘moderare’, diartikan dengan tidak ekstrim, sedang dan bertentangan dengan sesuatu yang radikal. Ketika kata ini digandengkan dengan Islam, ada dua makna pokok yang tidak dapat dipisahkan, karena pemisahan keduanya akan menghasilkan pemahaman yang bertolak belakang.
Pertama, Islam moderat harus berangkat dari keyakinan bahwa Islam adalah agama moderat. Islam merupakan moderasi atau antitesis dari ekstrimitas agama sebelumnya, di mana ada Yahudi yang sangat “membumi” dan Nasrani yang terlalu “melangit”. Islam merupakan jalan tengah dari dua versi ekstrim di atas dan memadukan “kehidupan bumi” dan “kehidupan langit”. Itulah makna dari ummatan wasathan (umat pertengahan, pilihan dan adil).
Kedua, moderasi Islam di atas harus ditindaklanjuti dalam memahami dan menjalankan Islam dengan menjauhi sikap ‘tatharruf’ (ekstrim). Moderasi dalam Islam bermain di antara dua kutub ekstrim, yaitu overtekstualis dan overrasionalis. Overtekstualis akan mengerdilkan ruang ijtihad dan rasio sehingga menghasilkan kejumudan dan pengebirian akal, yang notabene merupakan karunia terbesar Allah. Sikap ini akan menyulitkan dinamisme-interaktif Islam dengan dunia yang terus berkembang dan modern.
Pendekatan overrasionalis juga akan berbuah pahit karena akan melahirkan kenakalan rasionalitas terhadap teks dalam upaya “penyelarasan” Islam dengan dinamisme zaman. Dari rahim pendekatan semacam ini telah melahirkan liberalisme pemikiran yang dahsyat yang sering kali bukan hanya tidak sesuai dengan teks, namun juga berisi gugatan-gugatan yang tidak perlu dan hanya membuang energi.
Konsep Islam moderat bukan berarti sikap yang tidak berpihak kepada kebenaran serta tidak memiliki pendirian untuk menentukan mana yang haq dan bathil. Muslim moderat juga bukan orang munafik yang selalu cari aman, “plin-plan” dan memilih-milih ajaran Islam sesuai dengan kepentingannya. Muslim moderat berkeyakinan bahwa totalitas Islam merupakan agama yang selalu modern, tidak bermusuhan dengan dinamika dunia dan umat beragama lainnya.
Penebar Rahmat
Apakah dengan mengatakan Islam sebagai agama moderat berarti Islam adalah musuh agama lain dan dunia? Jawabnya tentu saja ‘Tidak’. Islam adalah edisi terbaru dari “buku” agama langit yang telah “diterbitkan” sejak Nabi Adam. Dengan demikian, mustahil Islam bertentangan dan bermusuhan dengan agama sebelumnya. Jika agama sebelumnya tidak kontradiksi dengan dunia dan bisa menginspirasi kemodernan, sebagai edisi terbaru, tentu Islam akan lebih koorporatif dan inspiratif. Sukses ganda dunia-akhirat yang ditawarkan al-Quran merupakan jaminan semua itu.
Memahami Islam secara moderat, tidak radikal dan tidak liberal, tidak akan menghalangi penebaran rahmat yang sesungguhnya ke seluruh dunia. Islam moderat tetap mengusung konsep Islam semestinya tanpa ada yang dikurangi dan ditambahkan. Bedanya, pendekatan yang dilakukan lebih kontekstual dan rasional dalam bingkai kesantunan, keramahan dan kedamaian. Rahmat Islam tidak hanya terletak pada keluhuran ajarannya (internal), tapi juga kesantunan dakwahnya (eksternal). Manusia mendapat rahmat Islam tidak hanya setelah masuk Islam, tapi sejak didatangi oleh dakwah Islam.
Kalau memang diyakini bahwa Islam sesuai dengan fitrah setiap manusia, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana membangunkan potensi fitrah setiap manusia itu. Kalau memang Islam benar secara rasional, pekerjaan berikutnya adalah mendidik rasionalitas manusia. Karena itu, dakwah tidak perlu dengan kekerasan karena hanya akan menghasilkan keterpaksaan, sedang Allah tidak menerima orang yang tidak ikhlas. Dakwah juga tidak mungkin dengan sikap liberal karena hal itu akan melenyapkan berbagai sumber rahmat yang paling esensial bagi manusia.(CMM/Zulheldi Hamzah) http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=P4782_0_3_0_C



26 November 2007 pukul 11:28
Yes, yes, yes….
26 November 2007 pukul 21:05
Itulah yang maksud di sini pak : http://herianto.wordpress.com/2007/05/16/fuzzy-1-logika-sang-kompromis/
Ayo… siapa yg nyontek …
————-
Tapi utk menjadi moderat, kita harus dapat dengan tepat menemukan ke 2 titik ekstrim tersebut…
Nah…, penemuan dua titik ekstrim tersebut yg bisa jadi antar kita gak sama, dimana ini sangat tergantung kepada lingkungan dan sumber wawasan/bacaan kita.
Barangkali itu makanya, para pengaku moderat pun berbeda kadarnya…
12 Desember 2007 pukul 13:48
assalaamu ‘alaikum, Muslim Moderat, Mukmin Demokratm, Muhsin Diplomat! Itu doktrin saya dari kecil, ada yang nyuri nih…
22 Juli 2008 pukul 08:30
Maaf Pak Shodiq, justru dari keseluruhan tulisan anda sendiri sebetulnya sudah membuktikan bahwa penambahan moderat pada frase islam menjadi tidak perlu, sebab sifat moderat itu sendiri sudah tercakup dalam islam. Sama seperti penambahan islam nasionalis, islam kasih sayang, islam tegas, dsb. CMIIW.
22 Juli 2008 pukul 10:01
@ AM Putra
Memang, pada hakikatnya, embel-embel apa pun terhadap istilah “islam” itu tidak perlu. Yang dicatat oleh malaikat pencatat amal adalah amal kita, bukan julukan yang disematkan kepada kita.
Penambahan itu hanya bersifat teknis, yang diperlukan untuk mempermudah kita dalam memahami Islam. Sebab, pada kenyataannya, banyak orang awam “bingung” melihat “wajah Islam” yang berlainan. Ada yang salafi, ada yang liberal. Ada yang radikal, ada yang moderat. Jika kita mengatakan kepada mereka, pokoknya ikutilah Islam saja, tanpa embel-embel, maka mereka malah akan semakin bingung: “Islam yang mana?”
26 Agustus 2008 pukul 03:45
setahuku dari beberapa buku dan artikel tentang faham2 orientalis, pendikotomian islam menjadi islam fundamentalis, islam moderat, islam radikal, dan islam liberal, itu berasal dari para orientalis untuk mempermudah mereka dalam studi islamologi. banyak para sarjana muslim yang baca buku2 orientalis bahkan belajar di negara para orientalis, lalu memakai kata-kata tersebut dalam berpendapat/ berceramah. akhirnya kata-kata tersebut menjadi umum ditelinga kita.
sebagai bukti adakah ulama-ulama Islam melakukan dikotomi Islam seperti disebut diatas? mungkin ada, tapi itu baru dilakukan oleh ulama2 sekarang2 saja yang telah baca buku/ terpengaruh oleh orientalisme.
lalu apakah salah meminjam kata2 orientalisme itu?
menurutku lebih baik tidak usahlah, alasannya sudah dijelaskan oleh Anda sendiri dan mas AM Putra.
lebih baik memakai kata Islam saja titik.
29 Agustus 2008 pukul 21:47
@ muhammadsurya
Begitulah idealnya. Secara pribadi, untuk saya sendiri, saya merasa cukup dengan istilah islam atau muslim saja tanpa embel-embel. Namun di depan orang-orang, saya berusaha berdakwah dengan “bahasa” kaum saya. Kebanyakan dari mereka bukanlah seperti AM Putra dan MSurya yang mudah mengerti bila diseru, “Pokoknya jadilah orang islam saja, titik (tanpa embel-embel).” Mereka membutuhkan penjelasan, islam yang bagaimanakah yang sebaiknya mereka ikuti. Mereka melihat bahwa pada kenyataannya, wajah islam (muslim) itu beraneka ragam. Itulah sebabnya saya terkadang memerlukan istilah ini.
25 Oktober 2008 pukul 22:11
Sepertinya kurang dalam dech, tapi ga pa2 kalau cuma belajar curhat asal jangan menganggap sudah final dan paling benar. belajar terus…
31 Januari 2009 pukul 12:04
sesungguhnya Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah ya seperti ini.. tidak memaksakan.. tapi melindungi.. memberikan keselamatan bagi diri dan lingkungannya.. memberikan kedamaian
jadi ini bukan lah hasil pemikiran baru… tapi konsep asli/paling awal yang baru muncul kembali sehingga menjadi asing… sama ketika islam pertama kali muncul.. sesuatu yang asing.. padahal dari jaman nabi adam sampai muhammad sebetulnya yg diajarkan ya itu..itu juga.. karena distorsi waktu, dan informasi… ya menjadi sesuatu yang baru..
Islam bukanlah agama.. tapi pilihan hidup dan jalan hidup.. bagaimana menjadi insan yang Islam.. selamat.. dalam kehidupan keseharian di dunia .. dan di akhirat kelak.. damai di dunia dan akhirat.. beroleh surga..didunia dan di akhirat
1 Februari 2009 pukul 07:44
@ harun rosyid
Blog ini ditujukan untuk umum, bukan untuk kalangan akademisi saja. Kalau pembahasannya terlalu dalam, kami khawatir para pembaca pada umumnya malah kebingungan.
@ sunan
Benar, Islam adalah diin. Dan makna diin itu lebih dari sekadar agama.
28 Agustus 2009 pukul 04:22
sekali Islam tetap “ISLAM” adapum istilah2 lain yang penting tidak bertentangan dengan AL-Qur’an dan sunnah
12 September 2009 pukul 23:31
janganlah warna menjadikn kita malah lupa akan esensial islam itu sendiri sebagai agama rahmatan lil alamin
23 Oktober 2009 pukul 06:36
S’7 ..
IsLam adaLah rahmaTan LiL a’Lamin ..
Dan IsLam jg hrus LbiH dr skeDar diin yg tdk hnya utK kpntingan ukhrawi,
tTapi jg’ mNgatUr duniawi ..
22 November 2009 pukul 21:33
islam memang akan selalu menajdi rahmat bagi alam